WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Tanjidor di Kabupaten Tangerang

Tanjidor merupakan jenis kesenian tradisional yang khas bagi suku bangsa Betawi di DKI Jakarta. Perjalanan sejarah musik tanjidor membuat jenis kesenian ini merambah ke daerah-daerah penyangga di antaranya Kabupaten Tangerang. Salah satu wilayah yang masih memperkenalkan musik tanjidor yaitu di Kp. Nanggul, Desa Sukasari Kec. Rajeg Kab. Tangerang.
Adalah sama halnya dengan kesenian Tanjidor di wilayah DKI Jakarta, asal mula kesenian tanjidor di daerah Tangerang bersumber dari Bahasa Portugis dikenal dengan nama tangedor artinya kelompok musik berdawai.
Kesenian tanjidor rupanya tetap dimainkan oleh bangsa Belanda. Adalah seorang ahli musik bernama Ernst Heinz yang mengatakan bahwa tanjidor dinamakan sebagai orkes yang pada masa Belanda dimainkan oleh para budak yang piawai bermain alat musik. Para budak yang pintar tersebut digabungkan dalam sebuah kelompok untuk bermain musik dalam rangka menghibur tamu atau bangsawan Belanda. Pendapat Ernst Heinz tersebut diperkuat oleh adanya bukti tentang seorang gubernur Belanda bernama Valckenier yang menggabungkan 15 orang budak yang ahli bermain musik tiup untuk kemudian digabungkan dengan pemain gamelan dan penabuh tambur turki. Bentukan tersebut digunakan sebagai penghibur dalam pesta-pesta para bangsawan Belanda.
Sekitar tahun 1860, era perbudakan mulai dihapuskan. Setidaknya, para budak merasa terbebas dari paksaan bermain musik untuk menghibur bangsawan Belanda. Namun demikian, keinginan untuk tetap bermain musik tetap bergelora sehingga mereka berusaha untuk membentuk sebuah perkumpulan dengan mengandalkan peralatan musik yang dimiliki. Dan. Akhirnya lahirlah sebuah jenis musik khas bernama tanjidor.
Awal mula penamaan ini adalah seperti tersebut di atas yang memang berasal dari Bahasa Portugis, yaitu Tangedor. Namun demikian, masyarakat pada zaman dahulu lebih dahulu mengenal kata tanji daripada tanjidor. Kata tanji mengacu pada sebuah alat musik yaitu bas drum atau bedug. Hal ini diperkuat oleh Jaip yang menceritakan pengalamannya pada masa kecil. Pada waktu itu, ia selalu mengacu dan mengatakan kata “tanji” saat mendengar alat musik tersebut ditabuh. Sementara itu, kata “dor” diucapkan setelah kata tanji. Latar belakang penambahan kata “dor” menurut Jaip setelah adanya penggabungan musik tanji dengan gaya dan waditra dari sukubangsa Sunda. Alhasil, kata “dor” kemudian mengarah pada gaya”tandak” saat kendang dimainkan dengan irama tertentu yang khas sehingga pemain, penari ataupun masyarakat ikut terhentak dan mengikuti gaya layaknya seorang penari jaipong. Irama dari waditra sunda tersebut mengacu pada jenis kesenian yang biasa dikenal dengan nama bajidor, demikian Jaip mengatakan. Dengan demikian, kata tanjidor yang selama ini akrab dikenal sebagai kesenian tradisional Betawi sebenarnya adalah seni tanji yang dikolaborasikan dengan seni bajidor.
Bajidor merupakan sebuah kesenian yang akrab di telinga masyarakat Karawang. Tandak yang disebutkan di atas memang merupakan bagian dari kesenian ini yang berbentuk tarian. Sementara sajian tari yang diiringi seperangkat gamelan berlaras salendro (sistem laras gamelan yang memiliki 5 nada) pelaku utama dalam pertunjukan adalah sinden dan bajidor yang didukung oleh nayaga (penabuh gamelan sebagai pendukung pertunjukan)
Sinden diduga sebagai transformasi dari ronggeng (penyanyi atau penari yang dibayar), yang semula sebagai penyanyi dan penari dalam ketuk tilu, tayuban, longser, doger, banjet, dan sejenisnya. Sinden, yang berperan sebagai unsur paling esensial dalam pertunjukan bajidoran, selalu menjadi pusat perhatian khalayak yang hadir dalam arena tersebut. Penampilan mereka cukup menarik karena polesan kecantikan dan keharmonisan pakaian yang dikenakan. Keberhasilan mereka dalam merias diri sehingga membuat orang pangling ‘berbeda dari biasanya’ diduga tidak terlepas dari faktor magis, baik dalam penampilan si sinden maupun kostum yang digunakan, misalkan saja si sinden, sudah menjadi kebiasaan dalam dunia sinden, untuk menarik perhatian penggemar mereka mendatangi dukun untuk meminta asihan. Sedangkan unsur-unsur kostumnya sendiri pada awal pembuatannya dipercaya mengambil dari karakteristik masyarakat sunda yang tersimbolis dalam tindakan, bahasa, budaya dan religi.
Meskipun penamaan dari seni tanjidor adalah bentuk penggabungan dari seni tanji dan bajidor namun dalam pelaksanaan pertunjukkan terkadang bentuk seni tanji murni masih tetap dipergelarkan. Oleh karena itu, khusus untuk penamaan tanjidor dalam pergelaranya bisa dilaksanakan dalam bentuk seni tanji murni ataupun digabungkan atau dikolaborasikan dengan seni bajidor.

Sumber: Irvan Setiawan, dkk, “Kesenian Tanjidor di Kabupaten Tangerang”, Laporan Perekaman, Bandung: BPNB Jabar, 2016

Labels

1978 (4) 1979 (3) 1980 (10) 1981 (3) 1982 (2) 1983/1984 (1) 1986 (2) 1987/1988 (1) 1988 (1) 1989-1990 (1) 1990 (13) 1990-1991 (1) 1990/1991 (1) 1991 (4) 1991 - 1992 (1) 1991-1992 (1) 1991/1992 (5) 1992 (19) 1992/1993 (3) 1993 (40) 1994 (1) 1994/1995 (2) 1995 (29) 1996 (11) 1996/1997 (3) 1997 (35) 1998 (28) 1999 (36) 1999/2000 (1) 2000 (24) 2001 (20) 2002 (12) 2003 (14) 2004 (7) 2005 (26) 2006 (13) 2007 (53) 2008 (29) 2009 (73) 2010 (54) 2011 (63) 2012 (72) 2013 (33) 2014 (45) 2015 (43) 2016 (55) 2017 (42) 2018 (67) aam masduki (14) adeng (12) Agenda (26) agus heryana (14) Ali Gufron (1) Ani Rostiati (46) arsitektur tradisional (2) Artikel (146) bahasa (6) bandar lampung (15) Bandung (11) Banten (42) Bartoven Vivit Nurdin (1) Bedah Proposal (1) Berita (225) Bimbingan (7) Bimbingan Teknis Penelitian (4) Biografi (2) Bioskop Keliling (10) Bogor (6) budaya (364) Buddhiracana (16) Bunga Rampai (1) ciamis (15) Cianjur (10) Cilegon (2) cimahi (2) cirebon (17) dialog (9) Dialog Budaya (4) Dibyo Harsono (8) DKI Jakarta (42) download (3) ekonomi (11) endang supriatna (7) enden irma (10) Ensiklopedi (1) euis thresnawaty (9) Festival Kesenian Tradisional (24) folklore (4) Galery (125) Garut (21) geografi sejarah (9) halwi dahlan (7) hermana (9) herry wiryono (13) heru erwantoro (14) iim imadudin (10) Indramayu (7) Info (9) Infografis (8) irvan setiawan (7) Iwan Roswandi (7) jawa barat (122) Jejak Tradisi Daerah (17) Jumhari (1) Jurnal Bahasa Sunda (5) Jurnal Penelitian (204) Kabupaten Bandung (12) kampung (1) Kamus (2) Karawang (4) Kearifan Lokal (1) Kebudayaan (1) kekerabatan dan organisasi sosial (13) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (20) komunitas adat (6) Kuningan (2) Lampung (34) Lampung Selatan (2) Lampung Utara (1) lasmiyati (13) lawatan budaya (5) lawatan sejarah (20) lebak (15) lina herlinawati (12) Lomba Lukis (1) lomba penulisan (8) Majalengka (6) mitos (1) museum (1) nandang rusnandar (20) naskah kuno (11) nina merlina (7) pakaian (3) Pameran (9) Pandeglang (2) Patanjala (104) Pembekalan Teknis Penelitian (3) Pembekalan Teknis Perekaman (6) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (37) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (14) permainan (4) Perpustakaan (504) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (3) Rapat Teknis Pelestarian Nilai Budaya (9) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (12) Risa Nopianti (2) rosyadi (11) sejarah (104) Sejarah Lokal (1) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (4) Staf BPNB Jawa Barat (2) subang (11) Sukabumi (11) sumedang (18) Suwardi Alamsyah P (16) Tangerang (1) Tasikmalaya (9) teknologi (4) Temu Tokoh (13) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (8) tokoh sejarah (3) toto sucipto (13) tradisi lisan (6) upacara tradisional (13) Video (7) Way Kanan (12) WBTB (62) Workshop dan Festival Komunitas Adat (6) Yanti Nisfiyanti (10) yudi putu satriadi (13) Yuzar Purnama (15)
 

BPNB Jawa Barat - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP