'ENTER TEXT HERE'
WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Upacara Ngarot (Indramayu)

Menurut sejarah, upacara Ngarot adalah berasal dari seorang tokoh bernama Kapol, seorang saudagar kaya raya dan senang menyelenggarakan pesta untuk muda-mudi. Karena tidak memiliki keturunan, sswah yang sangat luas diserahkan pada pemerintah dengan syarat pesta muda-mudi tetap dilakukan. Seusai pesta, para muda-mudi ini juga menggarap lahannya dan ternyata hasilnya berlimpah. Istilah ngarot dari bahasa Sunda leles yang berarti minum, atau makan minum (pesta). Dalam perkembangannya, upacara ngarot diikuti para remaja putri yang berdandan cantik agar menarik perhatian jejaka. Pada akhirnya menjadi ajang untuk mencari jodoh.

Upacara Ngarot adalah upacara muda-mudi, dimana para pemudi berdandan agar menarik lawan jenis (cari jodoh). Tujuan upacara ngarot adalah mempersatukan para pemuda desa Lelea dan juga menanamkan rasa cinta pemuda pemudi agar cinta bertani (bersawah). Waktu upacara ngarot pada Triwulan terakhir yang jatuh antara bulan Oktober hingga Desember. Hari yang digunakan selalu hari Rabu, yakni hari datangnya Prabu Lelea ke daerah ini. Dilaksanakan sehari semalam dari pukul 09.00 hingga pukul 14.00 dan dilanjutkan kembali pukul 20.00 hingga pukul 3.00 dini hari. Tempat pelaksanaan di Bale Desa dan Balai Adat (rumah Kapol almarhum). Penyelenggara adalah para pamong desa yakni kuwu dan sesepuh desa dan tokoh pemuda.

Prosesi upacara dimulai dari berkumpulnya para bujang dan gadis pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dengan mengenakan pakaian khusus upacara. Lalu mereka diarak oleh para pamong desa dan sesepuh serta diiringi kesenian reog menuju rumah kuwu. Mereka disambut dengan kesenian Jidur dan Ubrg. Pukul 10.00, arak-arakan berangkat menuju ke Balai Desa dengan terlebih dahulu berkeliling kampung. Arak-arakan terdiri dari para ibu-ibu pamong desa, pemuda pemudi, dan kesenian Jidur. Tiba di Bale Desa, para gadis dan rombongan duduk sambil menyaksikan kesenian tersebut, khususnya menyaksikan bujang yang sedang menari ronggeng. Para penari memberi nasi tumpeng sebagai lambang kesuburan. Acara berlangsung sampai malam hari dan keesokan harinya melakukan durungan yakni meratakan tanah sawah agar bisa ditanami.
Share this article :

Label

051 (19) 100 (1) 1986 (2) 1989-1990 (1) 1990 (12) 1990-1991 (1) 1991 (3) 1991-1992 (1) 1992 (19) 1993 (37) 1994 (1) 1995 (27) 1996 (11) 1997 (35) 1998 (26) 1999 (33) 200 (1) 2000 (22) 2001 (20) 2002 (12) 2003 (13) 2004 (7) 2005 (24) 2006 (10) 2007 (39) 2008 (27) 2009 (35) 2010 (44) 2011 (54) 2012 (62) 2013 (18) 2014 (32) 2015 (16) 2016 (26) 2017 (25) 300 (22) 600 (8) 700 (8) 800 (1) 900 (4) aam masduki (13) ade MK (2) adeng (12) Agenda (26) agus heryana (13) Ali Gufron (1) Ani Rostiati (11) arsitektur tradisional (2) Artikel (102) bahasa (6) banceuy (1) bandar lampung (9) Bandung (4) Banten (19) Bartoven Vivit Nurdin (1) Berita (172) Bimbingan (7) Bimbingan Teknis Penelitian (1) Bioskop Keliling (3) Bogor (2) budaya (242) Buddhiracana (16) Bunga Rampai (1) ciamis (6) Cianjur (4) Cilegon (1) cimahi (1) cirebon (12) dialog (9) Dialog Budaya (3) Dibyo Harsono (7) DKI Jakarta (6) download (3) ekonomi (11) Endang Nurhuda (4) endang supriatna (7) enden irma (10) euis thresnawaty (9) Festival Kesenian Tradisional (3) folklore (4) Galery (24) Garut (10) gembyung (1) geografi sejarah (9) gua sunyaragi (1) halwi dahlan (7) hermana (9) herry wiryono (13) heru erwantoro (13) iim imadudin (10) Indramayu (6) Info (9) irvan setiawan (5) iwan nurdaya (1) Iwan Roswandi (7) jawa barat (56) Jejak Tradisi Daerah (4) Jurnal Bahasa Sunda (5) Jurnal Penelitian (204) Kabupaten Bandung (8) kampung (1) kampung kuta (1) kampung mahmud (2) kampung naga (1) Karawang (4) kekerabatan dan organisasi sosial (10) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (18) komunitas adat (6) Kuningan (2) Lampung (13) Lampung Selatan (2) Lampung Utara (1) lasmiyati (13) lawatan budaya (4) lawatan sejarah (4) lebak (8) lina herlinawati (12) lomba penulisan (1) Majalengka (5) mapag sri (1) mitos (1) moh ali fadhillah (1) mumuh (1) museum (1) nandang rusnandar (20) naskah kuno (6) nina merlina (7) pakaian (3) Pameran (2) Pandeglang (1) Patanjala (103) Pembekalan Teknis Penelitian (2) Pembekalan Teknis Perekaman (4) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (23) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (12) permainan (3) Perpustakaan (397) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (2) Rapat Teknis Pelestarian Nilai Budaya (1) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (11) Risa Nopianti (1) rosyadi (11) sejarah (84) Sejarah Lokal (1) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (3) subang (10) Sukabumi (8) sumedang (7) Suwardi Alamsyah P (15) Tangerang (1) Tasikmalaya (7) teknologi (4) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (8) tokoh sejarah (2) toto sucipto (13) tradisi lisan (6) upacara tradisional (11) Video (6) WBTB (5) Workshop dan Festival Komunitas Adat (1) Yanti Nisfiyanti (10) yudi putu satriadi (13) Yuzar Purnama (14)
 

BPNB Jawa Barat - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP