'ENTER TEXT HERE'
WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Ubrug, Teater Tradisional Khas Masyarakat Banten

Oleh Yudi Putu Satriadi

Apakah Ubrug ?
Masyarakat diluar Banten akan asing mendengar istilah Ubrug, apalagi jika Ubrug dikaitkan dengan nama sebuah kesenian khas daerah tertentu. Untuk mulai berkenalan dengan kata tersebut, penulis jelaskan bahwa Ubrug adalah seni teater tradisional khas milik masyarakat Banten.

Untuk sampai pada pemahaman Ubrug secara menyeluruh kita lihat mengapa kesenian tersebut disebut Ubrug. Beberapa pendapat terlontar tentang Ubrug. Kata Ubrug berarti sebagai bangunan darurat, tempat bekerja sementara untuk beberapa hari saja, misalnya untuk kepentingan hajatan atau pesta. Pendapat ini diasumsikan mungkin karena pada masa lalu pemain Ubrug suka berpindah-pindah tempat dan membuat bangunan sementara manakala mereka mengadakan pertunjukan.

Kemungkinan lain nama Seni Ubrug muncul akibat onomatopea “brug”. Dalam Kesenian Ubrug, suara gendang yang mengeluarkan bunyi : brug … brug… brug, sangat dominan dan terdengar keras. Bahkan dari jarak jauh pun bisa terdengar sayup-sayup : brug …. brug, mengalahkan suara alat musik lainnya.

Lain halnya dengan pendapat Mutia Kasim (dalam Walidat, 1997), yang menyebutkan bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug. Dalam pertunjukan Ubrug, semua pemain, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, beserta para penonton sama-sama menempati satu tempat pertunjukan atau sagebrug (bahasa Sunda).

Pendapat lainnya dari seorang pelaku kesenian ini, bahwa kata Ubrug dipakai karena para pemaun kesenian ini sering pulang usai mentas pada dini hari. Mata yang berat karena kantuk serta badan yang penat sehabis perjalanan jauh, menyebabkan mereka tertidur tanpa aturan, sagebrug antara pemain laki-laki, perempuan, tua, muda dan nayaga. Terlepas dari pendapat-pendapat tersebut mengenai asal kata tersebut, kini, orang-orang akan langsung menujukan pikirannya kepada seni pentas semacam sandiwara yang berasal dari daerah Banten yang diiringi dengan iringan waditra.

Kesenian Ubrug memadukan unsur komedi, gerak/tari, musik, sastra (lakon), dengan pola permainan longgar. Pada dasarnya kesenian Ubrug terbagi atas empat bagian/babak yang istilahnya bisa jadi agak berbeda untuk beberapa wilayah di Banten. Salah satunya adalah pembagian babak dengan istilah tatalu, nandung, bodoran, dan lalakon. Tatalu berasal dari kata talu yang artinya tabeuh, yaitu permainan instrumentalia atau gendingan sebelum pertunjukan dimulai, tatalu dimaksudkan untuk mengumpulkan penonton. Nandung, adalah menarikan tarian sambil mengeluarkan kata-kata (lagu) nandung. Bodoran ‘lawakan’ yakni menampilkan tokoh “pelawak”. Tokoh ini menjadi ikon grup yang bersangkutan dan karenanya nama panggung alias julukan tokoh pelawak yang bersangkutan sekaligus menjadi nama grup. Lalakon, merupakan inti pementasan, yakni membawakan cerita sesuai judul. Judul yang dibawakan terlebih dahulu dimusyawarahkan oleh para aktornya sesaat sebelum pentas. Tujuan atau target lalakon tidak lain penonton bisa terhibur dan memahami jalan cerita yang dibawakan.

Dalam perkembangannya, pementasan ubrug saat ini sering tidak sesuai pakem. Artinya, pementasan Ubrug dapat menghilangkan satu bagian pementasan dan dapat pula diselipi musik modern untuk lebih menyesuaikan pada keinginan penonton. Hal ini merupakan salah satu cara agar kesenian Ubrug tetap diminati. Dengan cara ini, konon grup-grup Ubrug mampu menjaga kapasitas jumlah penonton dan bahkan mampu menambah jumlah pementasan.

Musik Pengiring
Pertunjukan Ubrug tidak dapat dilepaskan dari musik pengiring atau waditra karena pengantar bahkan pengatur laku dari pemain diarahkan oleh dalang yang memegang kendang. Dengan musik pula penekanan pada suasana tertentu menjadi lebih kena.

Selintas, waditra yang mengiringi penampilan Ubrug sama dengan pengiring pada pertunjukan wayang golek. Waditra atau perlatan yang mengiringi Ubrug terdiri atas kendang indung (gendang besar) dan dua buah kulanter ( gendang kecil); dua buah saron; sebuah gambang, rebab, goong, dan kecrek. Di antara waditra tersebut, gambang paling memperlihatkan ciri waditra wayang golek. Peralatan yang paling sulit dikuasai adalah rebab. Menurut para pemain, rebab merupakan peralatan yang memainkannya mengandalkan unsur perasaan. Tidak mengherankan jika pemain rebab sangat sulit diperoleh, begitu juga dengan regenerasinya.

Persiapan Pementasan Ubrug
Sebuah pementasan Kesenian Ubrug tidak dapat dilepaskan dari persiapan yang harus dilakukan sebelum pementasan. Persiapan yang dilakukan sangat berpengaruh kepada kelancaran pementasan.

Persiapan yang yang mendukung pementasan Ubrug telah dilakukan sehari menjelang pertunjukan. Persiapan yang dilakukan sehari sebelum pertunjukan adalah mendirikan panggung beserta dekorasinya, sedangkan persiapan yang dilakukan pada siang hari menjelang pertunjukan adalah pemasangan sound system dan perangkat gamelan. Kedua peralatan tersebut harus dipersiapkan sejak siang hari karena akan digunakan untuk pementasan Jaipongan dan lagu-lagu yang diiringi oleh organ tunggal yang digelar secara bergantian dari siang hingga malam hari.

Setelah Magrib, persiapan yang menjurus ke arah pementasan Ubrug baru dilaksanakan. Sesaji mulai diberi doa disertai pembakaran kemenyan; para penari wanita berdandan; para pemain mulai berembug untuk menentukan cerita. Sesaji yang telah lengkap ditempatkan di dekat gong, selanjutnya orang yang telah biasa berdoa melaksanakan tugasnya. Bersamaan dengan itu, di atas panggung di belakang layar para penari wanita, beberapa di antaranya akan bermain Ubrug berdandan dan berias. Pemain pria tampak lebih santai dibandingkan dengan pemain wanita. Mereka tidak perlu berias melebihi pemain wanita dan dapat berias dan berganti kostum mendekati waktu tampil. Oleh sebab itu, pemain pria biasanya mengisi waktu dengan berbincang-bincang mengenai lakon yang akan dibawakan. Dalam perbincangan tersebut terjadi pembagian peran serta garis besar dialog dan laku yang harus dikerjakan. Rembugan tidak pernah lama karena lakon yang akan dibawakan merupakan lakon ulangan yang sudah beberapa kali dipentaskan. Mereka sudah hafal betul akan peran dan dialog yang harus dikerjakan.

Terdapat ritual/upacara yang dilakukan pada saat setelah Magrib. Upacara tersebut berupa pembakaran kemenyan di dekat sesaji yang telah ditempatkan sejak siang hari. Pada upacara tersebut, orang yang telah biasa melakukan upacara akan melakukan doa kepada Tuhan dan para wali serta leluhur yang telah meninggal. Isi doa di antaranya berupa pengutaraan maksud keramaian serta permohonan agar acara berjalan lancar sampai akhir dan para pemain selamat dari berbagai gangguan.

Sesaji merupakan perangkat atau barang kelengkapan upacara yang dianggap sakral. Kesakralan tersebut terdapat dalam hal penempatan sesaji, kelengkapan sesaji, dan orang yang berdoa di hadapan sesaji. Sesaji harus ditempatkan di antara dua gong tidak boleh ditempatkan di sembarang tempat. Kelengkapan sesaji harus terdiri atas, kopi pahit dan kopi manis, rokok dua batang, beras putih, tujuh macam bunga, panggang ayam yang dapat digantikan oleh ayam hidup. Jika kelengkapan tersebut tidak utuh, pendoa tidak berani memaksakan berdoa. Dia akan meminta orang yang punya hajat untuk melengkapi sesaji sesuai dengan ketantuan. Pendoa merupakan orang yang biasa melakukan tidak boleh digantikan oleh orang lain. Orang tersebut telah dinilai mampu membacakan doa serta mantera.

Jika terdapat tata cara dalam hal sesaji maka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan misalnya pementasan terhambat karena pemain tidak lancar berperan; pemain mendapat kecelakaan yang diakibatkan oleh berbagai penyebab; atau kejadian lain yang tidak dikehendaki. Konon jika panggang ayam digantikan oleh ayam hidup, ayam hidup tersebut tidak akan bertahan lama hidup karena sebenarnya nyawa ayam tersebut telah diambil oleh yang gaib.

Peralatan yang berupa perangkat gamelan dan peralatan pendukung lainnya tidak perlu dipersiapkan secara khusus. Gamelan telah dipersiapkan sejak siang hari karena akan digunakan untuk pertunjukan Jaipongan. Peralatan pendukung seperti kursi disediakan secara mendadak karena mudah disediakan. Jika dipasang dari awal akan mengganggu pementasan Jaipongan dan pementasan nyanyian.

Jalannya Pertunjukan
Waktu pertunjukan atau pementasan Ubrug dilaksanakan setelah lewat tengah malam lebih kurang pukul 00.30 hingga dini hari. Pementasan Ubrug dimulai setelah selesai pertunjukan Jaipongan dan lagu-lagu.

Pertunjukan Ubrug diawali dengan instrumentalia musik. Nada yang dimunculkan oleh alat musik itu disebut tatalu. Maksud dari bunyi-bunyian ini adalah untuk memanggil dan memberitahukan bahwa pementasan Ubrug akan dimulai. Durasi tatalu tidak begitu lama hanya sekitar sepuluh menit dan mereka tidak perlu menunggu penonton datang seluruhnya.

Selesai tatalu musik berubah menjadi musik pengiring untuk membuka acara. Pada saat itu, dalang yang memegang kendang, memberikan pengantar mengenai lakon yang akan dibawakan oleh kelompok Ubrug. Ketika musik pembukaan berlangsung masuklah seorang pemain yang membawakan gerakan tari dan monolog yang lucu. Ucapan pemain tersebut tidak selamanya monolog, sesekali terjadi juga dialog antara pemain tersebut dengan dalang atau dengan nayaga. Pada tahap ini yang tampil adalah bodor andalan yang sangat disenangi oleh penonton. Terkadang saking lucunya, pemain ini menghabiskan waktu cukup lama untuk berperan. Selain menampilkan lawakan yang menyegarkan, tokoh ini terkadang melakukan monolog yang menjadi pemancing cerita.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan preposisi. Pada tahapan ini akan dikenalkan tokoh-tokoh. Identitas tokoh dapat diketahui dari pakaian yang dikenakan, nama panggilan, atau bahkan dipertegas oleh pengakuan yang keluar dari mulut pemain tersebut. Para tokoh memperkenalkan peran satu per satu. Cara mereka keluar untuk mengenalkan dirinya, mereka keluar dari sebelah kiri di balik layar dan keluar dengan cara masuk kembali ke belakang layar melalui celah sebelah kanan layar. Dalam memperkenalkan diri, seorang pemain dapat melakukan monolog atau berdialog dengan dalang. Dengan demikian perkenalan menjadi lengkap dan jenis situasi yang sedang dialami oleh sang tokoh menjadi jelas. Pada tahapan ini pun tergambar karakter antagonis dan protogonis. Setelah semua pemain memperkenalkan diri, terdapat jeda. Jeda diisi dengan musik selingan dan dalang memberi pengantar tentang cerita yang akan berlangsung pada tahapan berikutnya.

Pada tahapan selanjutnya yang dapat disebut sebagai tahapan konflik atau tahapan puncak, semua tokoh dengan karakter masing-masing mulai melakukan interaksi, termasuk bodor andalan yang telah tampil di muka. Pada tahapan ini mulai terlihat arah alur cerita karena para pemain atau tokoh dengan karakternya masing-masing mulai berinteraksi. Tokoh yang berkarakter protogonis mulai bertentangan dengan tokoh antagonis. Pada tahapan ini alur cerita atau plot merupakan jalan cerita yang paling panjang. Pada tahapan ini pula puncak kelucuan akan muncul karena semua tokoh dengan berbagai karakter muncul menjadi satu. Pada tahapan ini inti permasalahan mulai terkuak dan arah penyelesaian cerita mulai terlihat.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan resolusi. Tahapan ini merupakan tahapan penyelesaian masalah. Penyelesaian masalah ditandai dengan munculnya tokoh yang berkarakter trigonis. Tokoh ini akan menengahi konflik yang terjadi antara tokoh yang berkarakter protogonis dan antagonis. Tokoh yang berkarakter trigonis akan menggiring semua tokoh ke arah penyelesaian alur cerita. Akhir cerita ditandai dengan satu pemenangan pada salah satu tokoh. Biasanya tokoh yang dimenangkan adalah tokoh yang berkarakter protogonis. Cara ini dimaksudkan untuk memberikan aspek moral yang baik serta tidak mengajarkan kesan buruk pada penonton.

Pada seluruh alur cerita, dari awal hingga akhir kisah peran dalang sangat menonjol untuk mengatur jalan cerita. Pengaturan jalan cerita tidak langsung sebagai sebuah instruksi melainkan disampaikan melalui dialog dengan para tokoh, dan para tokoh akan bertindak sesuai dengan perintah yang terdapat dalam dialog antara dalang dengan dirinya.

Selain dalang, para nayaga cukup berperan penting dalam mendukung jalan cerita. Dukungan mereka berupa penciptaan warna musik yang sesuai dengan situasi yang terjadi. Mereka akan menabuh atau memainkan alat musiknya dengan melihat adegan yang terjadi. Sebagai contoh ketiga adegan berlangsung seru, semua alat musik akan ditabuh riuh, sebaliknya jika situasi adegan lirih atau memilukan, alat musik rebab sangat menonjol. Jadi, dalam satu pementasan kesenian Ubrug terjadi harmonisasi tiga komponen, yaitu kelompok pemain, dalang, dan nayaga termasuk sinden. Pembentukan harmonisasi dari ketiga komponen tersebut terjadi karena seringnya mereka bermain bersama dan masing-masing pemain telah mengerti akan tugas yang harus dilakukannya.

Menjelang akhir penampilan musik pengirim menurunkan tempo gamelannya. Sebelum dalang berbicara untuk menutup acara, para pemain keluar dari belakang layar dan selanjutnya membuat barisan di atas panggung sambil menghadap ke arah penonton. Dalang menutup acara pergelaran dengan mengatakan kesimpulan cerita sambil meminta maaf kepada seluruh penonton jika terdapat kata-kata yang tidak berkenan, diikuti oleh para pemain yang memberikan penghormatan dengan cara membungkukan badan.

Tahapan-tahapan tersebut sekalipun bukan merupakan aturan yang secara tegas diterapkan, namun seluruh pemain terutama dalang memiliki keyakinan bahwa tahapan-tahapan tersebut akan memuluskan jalan cerita serta penonton akan dengan mudah menikmati pertunjukan.

Dalam setiap pergelaran, pada tema atau judul yang berbeda, pemain yang ditampilkan dengan peran berbeda pula, tergantung kepada tokoh yang harus diperankan oleh pemain. Tanpa disadari setiap pemain memiliki kekhususan untuk memerankan satu atau dua orang tokoh. Pemain yang tidak pernah berganti adalah pemain yang masuk ke dalam arena pertunjukan sebagai pembuka pergelaran. Pemain ini dituntut untuk bisa ngigel dengan gerakan lucu dan dialog yang lucu. Kemampuan ngigel yang lucu adalah memadukan gerak seluruh anggota badan dengan musik pengiring. Dialog atau monolog yang lucu adalah ucapan yang mengundang gelak tawa penonton. Kalimat yang diucapkan bisa berasal dari kata-kata yang dipelesetkan atau mengambil kata-kata yang sedang popular yang diucapkan menggunakan logat daerah, dan lain sebagainya. Mengingat kemampuan yang diperlukan untuk pemain ini sangat banyak dan memerlukan keterampilan khusus, maka pemain ini tidak dapat digantikan oleh pemain lain. Lagi pula pemain ini dijadikan primadona oleh perkumpulan Ubrug, penonton menyenangi dia karena sosoknya sebagai orang lucu yang dapat menghibur.

Pembentukan karakter pemain lainnya terbentuk karena seringnya seorang pemain memainkan satu peran. Seringnya memainkan peran tersebut karena tingkah laku dan ucapan pemain tersebut telah sesuai dengan karakter seseorang. Contohnya seorang pemain yang berperan sebagai juragan, akan dipakai terus sebagai pemain yang berperan sebagai juragan karena ucapan dan tingkah lakunya sebagaimana seorang juragan. Contoh lain peran anak, akan dimainkan oleh pemain yang memiliki ukuran tubuh seperti anak-anak. Peran ini dipercayakan kepadanya karena baik ucapan dan tingkah lakunya sebagaimana layaknya seorang anak. Para pemeran yang sudah terbentuk untuk memerankan satu tokoh, sulit untuk memerankan tokoh lain. Resiko dari penentuan peran tersebut, seorang pemain tidak akan digunakan apabila dalam lakon tidak terdapat tokoh tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1977, Makalah, Pekan Teater Tradisional bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta.

Mutia Kasim 1977 “Walidat” Jakarta

Mahdiduri dan Yadi Ahyadi. 2010 Ubrug Tontonan dan Tuntunan, dan Tuntunan, Dinas Pendidikan Provinsi Banten bekerja sama dengan Lembaga Keilmuan dan Kebudayaan. Nimus Institute.

Mustappa Abdullah. 2000 Ensiklopedi Sunda, Jakata,: Pustaka Jaya

R. Satjadibrata, 1954, Kamus Basa Sunda, Kementerian PPdan K, Jakarta

Srijono Sispardjo, 1978, Buletin “KAWIT’ No. 20.V.II: Desember, Kebudayaan Jawa Barat

Sumber: Makalah disampaikan dalam Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan di Purwakarta 14 September 2013
Share this article :

Label

1990 (11) 1991 (3) 1992 (19) 1993 (35) 1994 (1) 1995 (27) 1996 (11) 1997 (35) 1998 (25) 1999 (28) 2000 (20) 2001 (20) 2002 (12) 2003 (12) 2004 (7) 2005 (20) 2006 (1) 2007 (38) 2008 (23) 2009 (34) 2010 (40) 2011 (46) 2012 (43) 2013 (12) 2014 (22) 2015 (12) 2016 (25) 2017 (15) aam masduki (13) ade MK (2) adeng (12) Agenda (26) agus heryana (13) Ali Gufron (1) Ani Rostiati (10) arsitektur tradisional (2) Artikel (96) bahasa (6) banceuy (1) bandar lampung (7) Banten (19) Bartoven Vivit Nurdin (1) Berita (151) Bimbingan (7) Bimbingan Teknis Penelitian (1) Bioskop Keliling (2) Bogor (2) budaya (201) Buddhiracana (16) Bunga Rampai (1) ciamis (6) Cianjur (4) Cilegon (1) cimahi (1) cirebon (11) dialog (9) Dialog Budaya (3) Dibyo Harsono (7) DKI Jakarta (6) download (3) ekonomi (11) Endang Nurhuda (4) endang supriatna (7) enden irma (10) euis thresnawaty (8) Festival Kesenian Tradisional (3) folklore (4) Galery (17) Garut (10) gembyung (1) geografi sejarah (9) gua sunyaragi (1) halwi dahlan (6) hermana (9) herry wiryono (13) heru erwantoro (12) iim imadudin (10) Indramayu (6) Info (9) irvan setiawan (5) iwan nurdaya (1) Iwan Roswandi (6) jawa barat (41) Jejak Tradisi Daerah (4) Jurnal Penelitian (191) Kabupaten Bandung (6) kampung (1) kampung kuta (1) kampung mahmud (2) kampung naga (1) Karawang (3) kekerabatan dan organisasi sosial (10) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (18) komunitas adat (6) Kuningan (1) Lampung (11) Lampung Selatan (1) Lampung Utara (1) lasmiyati (12) lawatan budaya (4) lawatan sejarah (4) lebak (8) lina herlinawati (12) lomba penulisan (1) Majalengka (5) mapag sri (1) mitos (1) moh ali fadhillah (1) mumuh (1) museum (1) nandang rusnandar (18) naskah kuno (6) nina merlina (7) pakaian (3) Pandeglang (1) Patanjala (100) Pembekalan Teknis Penelitian (2) Pembekalan Teknis Perekaman (4) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (22) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (11) permainan (3) Perpustakaan (333) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (2) Rapat Teknis Pelestarian Nilai Budaya (1) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (11) Risa Nopianti (1) rosyadi (11) sejarah (76) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (3) subang (7) Sukabumi (6) sumedang (6) Suwardi Alamsyah P (15) Tangerang (1) Tasikmalaya (7) teknologi (4) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (8) tokoh sejarah (1) toto sucipto (13) tradisi lisan (6) upacara tradisional (11) Video (6) WBTB (5) Yanti Nisfiyanti (10) yudi putu satriadi (13) Yuzar Purnama (13)
 

BPNB Jawa Barat - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP