'ENTER TEXT HERE'
WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

Sedikit tentang Abu Nawas

Pendahuluan
Dalam cerita lama terdapat kisah
Abu Nawas jenaka menghadap raja
hilang pasti nyawanya karna bersalah

namun aneh ahirnya mendapat harta
Abu Nawas ...
lucu lagi jenaka
lihat dulu orangnya
belum tentu lemah pribadinya.

.................

Begitulah bunyi penggalan lagu yang pernah populer di negeri kita pada tahun 60-70-an. Lagu ini memperlihatkan gambaran atau citra tokoh Abu Nawas, yaitu seorang jenaka atau pandai melucu dan banyak akalnya, bahkan kadang kala berlaku “konyol”. Sehingga berhasil memperdaya raja Bagdad (Khalifah Harun ar-Rasyid). Alih-alih dijatuhi hukuman, tetapi pada akhirnya malah mendapatkan hadiah uang dari raja, karena akal bulusnya dapat menyelamatkan nasibnya dari perangkap raja. Alkisah, raja selalu saja berusaha mencari akal untuk menjerat Abu Nawas agar raja memiliki alasan menghukum Abu Nawas.

Sejak berabad-abad, setidaknya sejak berpuluh tahun sepanjang yang pernah kita dengar dan kita baca dalam literatur Melayu dan Indonesia, nama Abu Nawas dikenal sebagai tokoh lucu yang cerdik. Hanya itu. Asosiasi orang pun jadi terpengaruh. Demikian besar pengaruhnya, sehingga baru namanya saja disebut, orang sudah mau tertawa. Begitu pula bila terjadi suatu peristiwa yang tak masuk akal, karena kebodohan atau karena kepintarannya, orang lalu mengaitkannya kepada Abu Nawas. Demikian pula maksud orang mengaitkan perilaku seseorang dengan tokoh Abu Nawas bisa dalam arti pujian, bahkan terkadang bisa pula dalam arti cemoohan. Begitu lekat citra yang dapat kita tangkap dari sang tokoh Abu Nawas di negeri kita dalam dongeng atau pada bubu-buku cerita. Lalu siapakah sebenarnya tokoh ini?, apakah tokoh ini merupakan tokoh rekaan para pengarang hikayat pada jaman dahulu, yang selalu dikaitkan dengan raja Harun ar-Rasyid, salah seorang khalifah dari dinasti Abasiyah ? Atau apakah tokoh Abu Nawas itu memang pernah hidup ?

Tokoh ini sebenarnya jelas sekali sejarahnya. Dalam literatur berbahasa Arab dan beberapa literatur berbahasa Barat, baik dalam penulisan sejarah sastra Arab atau biografi, tokoh ini dikenal hanya dengan satu sebutan, sebagai penyair besar dengan gaya yang khas. Abu Nawas atau sering pula disebut dengan nama Abu Nuwas, penyair Arab termasyhur pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809M) dari Dinasti Abasyiyah. Nama lengkapnya adalah Abu Nuwas al-Hasan bin Hani al-Hakami. Ayahnya seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad, khalifah terahir Dinasti Bani Umayah di Damascus. Ibunya, Jelleban, adalah seorang wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol (bulu domba). Ketika ia masih kecil ayahnya meninggal dan kemudian ibunya membawanya ke Basra. Disana ia belajar bahasa dan sastra Arab, belajar agama (hadis dan al-Quran), sejak masih kecil sudah menampakan bakat dalam sastra terutama syair Arab. Berkat kepandaiannya dan bakat kepenyairannya, kemudian membawanya ke Ahwaz dan setelah itu ke Kufah.

Di kota Kufah ia belajar kepada penyair Arab, Khalaf al-Ahmar, yang kemudian menyuruhnya pergi berdiam di pedalaman padang pasir bersama orang Arab Badui untuk mendalami bahasa Arab selama setahun. Setelah itu pindah ke Bagdad dan berkumpul bersama para penyair di kota itu. Ia pun berhubungan dengan beberapa amir dan menggubah puisi pujian (madh) bagi mereka.

Berita tentang kepandaiannya dalam berpuisi sampai ke istana Harun al-Rasyid, khalifah Dinasrti Abasiyah, ia dipanggil untuk menjadi penyair istana dengan tugas menggubah puisi pujian untuk khalifah. Pada suatu ketika ia melantunkan puisi yang menghina kabilah Arab Mudar sehingga Khalifah murka kepadanya dan memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada pembesar istana dari keluarga Barmak. Ia meninggalkan Bagdad setelah keluarga Barmak dibinasakan oleh Kalifah pada tahubn 803 M. Ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Setelah Khalifah Harun al-Rasyid meninggal dunia ia kembali ke Bagdad dan menjadi penyair istana bagi Khalifal al-Amin.

Pada masa tuanya, ia cenderung meninggalkan kesenangan dunia dan menjalani hidup zuhud (bertapa). Ada riwayat yang menyatakan bahwa ia meninggal akibat dianiaya oleh orang-orang suruhan Bani Nawbakht yang menaruh dendam kepadanya.

Puisi-puisi Abu Nawas (Abu Nuwas) terdiri atas beberapa tema: pujian (madh), satire (hija’), kehidupan zuhud (zuhdiyat), penggambaran khamar (khumrayat), wanita dan cinta (gazaliyat), lelucon dan senda gurau (mujuniyat). Puisi khumrayat-nya membuat dia dikenal sebagai “penyair khamar” karena ia yang pertama kali mengangkat khamar, minuman haram, sebagai tema puisi. Dalam khumrayat, dia memberikan kelezatan dan keburukan khamar, tentang buah anggur, pemerasannya dan pengolahannya, rasa khamar, warna dan baunya serta para peminumnya yang mabuk. Ia memperolok hadis yang melarang minum khamar karena menurutnya khamar dapat menyenangkan hati yang risau dan gundah, dan dapat bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik yang menuangkan khamar ke dalamgelas. Tetapi pada masa menjelang ahir hayatnya, ia menggubah puisi zuhdiyat, mengungkapkan rasa penyesalannya dan taubat atas kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya dibarengi dengan keinginan untuk hidup zuhud. (Riwayat hidup Abu Nuwas (Abu Nawas) dikutip dari Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993: 45,46)

Jika menyimak riwayat hidup Abu Nawas (Abu Nuwas), sangatlah jauh perbedaan tentang gambaran tokoh tersebut dalah khzanah sastra Arab dengan gambaran pada literatur di negeri kita. Dari manakah perbedaan itu bermula?, tidak dapat diketahui secara pasti. Mungkin gambaran yang salah tentang tokoh ini pada literatur di negeri kita itu akibat pengaruh semantik bahasa?

Salah satu tema dari puisi-puisi penyair ini dalam kritik-kritik sastra yaitu puisi mujuniyat, arti kata mujun dalam bahasa Arab pada umumnya diartikan jenaka/lawak, senda gurau, atau tebal muka. Sedang dalam kamus-kamus besar seperti Lisanul Arab misalnya, kata mujun berarti “serba tak acuh terhadap yang diperbuatnya”, dan lebih khusus lagi dalam sastra ialah “pelukisan segala perbuatan maksiat, sumber-sumbernya serta pertanyaannya yang terus terang...” (dikutip dari tulisan Ali Audah, “Abu Nawas Penyair atau Pelawak”, dalam Panji Masyarakat, no. 305, Th. XXII/ 15 Oktober 1980).

Mungkinkah karena pengaruh puisi-puisinya yang bertema mujuniyat, memperteguh anggapan orang tentang gambaran tokoh ini yang jenaka atau suka melucu? Tanpa banyak mempersoalkan dari mana, sejak kapan dan bagaimana timbulnya salah persepsi tentang tokoh sang penyair ini, Abu Nawas sebagai penyair, yang ingin kita lihat dalam tulisan ini sekaligus menempatkan-nya pada tempat yang sebenarnya.

Dr. Syauqi Deif, seorang kritikus sastra Arab terkemuka, memberi penilaian dalam bukunya Tarikhul Adabil Arabi yang dikutip oleh Ali Audah, bahwa Abu Nawas adalah seorang penyair terbesar pada zamannya, jenius, tapi sinis, serba tak acuh dan kurang sekali menghargai nilai-nilai moral dan agama. Buat dia, lanjut Dr. Syauqi, hidup itu kesenangan semata, musik, minuman keras, mabuk. Kalau hidup demikian tidak ada, maka selamat tinggalah dunia, ungkap penilaian beliau tentang penyair ini.

Antologinya yang besar dan banyak dibicarakan orang, demikian penilaian Dr. Syauqi lebih lanjut, dan tema puisinya yaitu al-Khamriyat yang berarti puisi-puisi minuman keras, merupakan puisi-puisi khas bagi Abu Nawas dan belum dilakukan oleh penyair lain. Puisi al-Khamriyat-nya terutama melukiskan arti dan kedudukan anggur, mabuk, bercumbu, rayuan birahi, dan segala hidup di luar ukuran moral agama. Kata-kata mujun dalam kritik-kritik sastra yang biasa dialamatkan kepada puisi-puisi Abu Nawas adalah dalam pengertian ini, dan bukan dalam arti jenaka atau lawak seperti telah disinngung di atas. Memang, ada yang menyebutkan pribadinya simpatik, wajahnya tampan, suka pada humor dan disukai dalam pergaulan.

Apa yang dilukiskan oleh Dr. Syauqi Deif tersebut, cukup menggambarkan latar belakang kehidupannya. Banyak sekali faktor yang telah membentuk jiwa dan watak Abu Nawas sehingga ia menjadi orang yang begitu sisnis dan apatis terhadap lingkungan. Ia berdarah Persia, cepat naik darah, tapi pengetahuannya begitu luas dalam berbagai kebudayaan yang hidup di masa itu – dari kebudayaan Arab sampai kepada kebudayaan Islam, dari kebudayaan Hindu, Persia, Yunani, Yahudi dan Kristen. Hidupnya juga sudah hanyut dalam pengaruh peradaban materialisme, yang timbul masa itu dengan segala ciri-cirinya, ditambah oleh dorongan krisis jiwa yang sudah begitu mencekam karena kelakuan ibunya yang penya sejarah yang tidak sedap pada masa mudanya, begitu penjelasan Dr. Syauqi Deif.

Karena frustasi itu ia lalu memberontak terhadap segala nilai. Ia lalu menghanyutkan diri dalam perbuatan-perbuatan yang sama sekali kurang terpuji. Kadang ia memberontak sebagai orang yang tak beragama dengan caranya yang sangat kasar, seperti tampak dalam beberapa puisinya. Tetapi semua itu hanya sebagai sikap sepintas lalu, bukan sebagai ideologi hidupnya. Dengan kata lain Abu Nawas hanya hanyaut dalam perbuatan-perbuatan maksiat, bukan dalam ateisme. Mungkin ia menganggap agama dan moral sebagai penghalang terhadap segala keinginannya bermabuk-mabukan, kemaksiatan, dan perbuatan dosa lainnya. Dan atas semua ini, sebagai seorang yang beriman ia percaya Tuhan Maha Pengampun (Dr. Umar Farrukh, Abu Nawas, Beirut, 1960: 142, dikutip dari Ali Audah, dalam Panji Masyarakat).

Bagaimanapun juga kedudukan penyair ini dalam sastra Arab tinggi sekali. Pilihan kata-kata dalam sajak-sajaknya orisinal dan penggambaran yang tepat. Puisi-puisinya dianggap paling lengkap dan tepat sekali melukiskan suasana dan masyarakat masa itu di Bagdad dan sekitarnya. Sebagai seorang penyair istana, Abu Nawas pernah hidup dalam gemerlapnya istana Khalifah Harun ar-Rasyid dan penggantinya al-Amin. Tetapi tidak jarang ia meringkuk dalam penjara karena sikapnya yang dinilai kurang ajar dan sajak-sjaknya yang serba tidak peduli.

Sampai seberapa jauh Abu Nawas hidup dalam dunia yang serba maksiat, menganggap rendah nilai moral dan semua ajaran agama, ada beberapa pendapat dikemukanan orang. Ia bertobat setelah usianya makin lanjut dan mulai tampak kelemahan fisiknya. Mulai ia sadar dari mabuknya. Ia berpikir tentang arti hidup dan sebaga akibatnya, tentang maut dan hari kemudian. Ia yakin betapapun manusia melakukan perbuatan-perbuatan dosa, pintu tobat selalu terbuka. Allah Maha Pengampun. Dr. Omar Farrukh, seorang pengarang produktif tentang kebudayaan Islam, yang juga menulis biografi Abu Nawas menambahkan, bahwa mungkin juga faktor cintanya yang mendalam kepada seorang wanita Bagdad, Jinan, mendorongnya begera bertobat. Ia mencintainya sepenuh hati dan sering dinyatakannya dalam sajak-sajaknya. Dengan segala cara penyair itu ingin mendekati Jinan, dan wanita itu pun tampaknya membalas cintanya dengan sembunyi-sembunyi. Tetapi Jinan seorang wanita yang taat beragama. Cara hidup Abu Nawas dengan segala kemasyhurannya sebagai penyair besar, tidak disukainya.

Disamping itu ada pula sumber yang membantah bahwa ia pernah mencintai Jinan atau wanita lain. Sajak-sajaknya yang dibuatnya hanya sekedar bersenda gurau. Bahwa dia menunaikan ibadah haji tampaknya memang sudah dua kali, dalam rangka tobatnya itu. Hal ini terlihat juga dalam beberapa sajaknya. Dalam antologinya ada beberapa isyarat, bahwa ia sudah berkeluarga dan mempunyai anak laki-laki yang meninggal waktu kecil pada akhir usia ayahnya, dan dua anak perempuan. Hanya saja mereka tidak punya sesuatu peranan dalam sejarah. Besar sekali dugaan, bahwa penyair Abu Nawas hidup miskin pada akhir hayatnya. Penyair terkenal ini meninggal di Bagdad pada tahun 199 Hijriyah.

Sajak-sajaknya yang ditulis setelah bertobat memang mengharukan. Ia menyesali segala perbuatan dosa masa mudanya, pada salah satu sajaknya ia menuangkan perasaannya

Yakni, ia merasa menyesal sekali atas perbuatannya yang sia-sia. Salat lima waktu tak pernah dihiraukan. Dan hanya kepada Allah, Yang Maha Tinggi ia berdoa mohon pengampunan, seperti yang telah Allah berikan kepada Nabi Yunus.

Keyakinan agamanya banyak dibahas orang. Mereka menilai penyair ini dari puisi-puisinya yang beraneka ragam. Hampir semua yang dialaminya dan yang begejolak dalam pikirannya tertuang secara gamblang dalam puisi-puisinya. Orang menilai, bahwa keimanannya kepada Allah kuat sekali, begitu juga terhadap pengampunan-Nya lebih besar:

Begitu besar dosaku
Setelah kubandingkan dengan sifat kepengampunan-Mu

Ya Allah
Pengampunan-Mu lebih besar.

Mengenai harapan akan pengampunan Allah sajak berikut ini terkenal sekali, dijalin dalam kata-kata yang sangat mengharukan:

Tuhanku, kalau pun dasaku sudah begitu besar, begitu banyak
Aku pun tahu, sifat pengampunan-Mu lebih besar
Kalau yang berharap kepada-Mu hanya orang yang saleh
Kepada siapa orang yang berdosa ini akan berlindung?
Seruanku hanya kepadamu, ya Allah
Dengan sepenuh hati, seperti perintah-Mu
Kalaupun tanganku ini Kautolak
Siapalagi yang akan mengampuniku?
Tak ada jalan lain bagiku kepada-Mu
Hanya harapan dan pengampunan-Mu yang begitu indah

Di samping semua itu, aku seorang muslim (berserah diri).

Puisi-puisi zuhud-nya atau puisi keagamaan Abu Nawas memang tidak begitu banyak jumlahnya, dan dibuat pada masa tuanya. Tetapi dari segi kedalamannya dinilai banyak kritikus sastra melebihi puisi-puisi keagamaan para penyair lain yang sejaman dengannya. Sebagi penyair, baik dalam puisi mujun atau puisi zuhud, dari segi ungkapan, penggunaan kata, dan kedalaman isi, dalam sejarah sastra Islam, Abu Nawas tetap menempati kedudukan yang penting, demikian Dr. Omar Farrukh dalam biografi Abunawas memberi penilaian.

Dalam khazanan literatur kita (khususnya pada sastra Sunda) gambaran yang mendekati citra seorang pemalas, banyak akal, pandai melucu, dan tindakannya terkadang “konyol” adalah seperti citra Si Kabayan dalan dongeng-dongeng Sunda. Tetapi dibalik itu ada satire yang menggugah kesadaran kita. Bahkan “menyindir” secara halus. Namun demikian tokoh Sikabayan adalah tokoh rekaan, dan bukan tokoh yang benar-benar pernah hidup. Dalam dunia sastra Arab (Islam) dikenal pula dengan tokoh rekaan seperti tokoh Si Kabayan pada sastra Sunda. Yaitu tokoh Nasrudin Hoya, dan tokoh Juha. Dua tokoh ini, terutama tokoh Nasrudin Hoya adalah tokoh rekaan para Sufi (Ahli Tasawwuf) yang berusaha menampilkan “sindiran halus” tentang perilaku manusia seperti diwakili oleh Nasrudin Hoya. Cerita tentang tokoh Nasrudin Hoya, sangat mashur pada kalangan Sufi. Bahkan banyak tokoh Sufi yang menjadikan tokoh Nasrudin Hoya ini sebagai media pengajaran dengan menampilkan banyak sekali cerita dengan menggunakan tokoh ini. Bagi kalangan para Sufi realitas seseorang tokoh, apakah tokoh cerita itu merupakan tokoh rekaan atau tokoh yang benar-benar pernah hidup tidaklah menjadi masalah. Yang lebih penting adalah “hikmah” yang bisa dipetik dari kisah tokoh ini. Antara tokoh Si Kabayan mungkin ada kemiripan dengan tokoh Nasrudin Hoya yang selalu berupaya “menertawai” perilaku kita, manusia yang “melahirkannya”.

Yang menjadi masalah sekarang, jika harus membandingkan tokoh Abu Nawas sepeti diceritakan dalam literatur-literatur berbahasa Arab dengan tokoh Abu Nawas dalam literatur Melayu maupun literatur di tanah air kita, sangatlah sukar untuk memahaminya. Namun demikian, sebagaimana telah berlaku sejak tempo dulu hingga hari ini, begitulah citra Abu Nawas pada literatur kita.

Daftar Pustaka
Ali Audah, “Abu Nawas Penyair atau Pelawak”, dalam Panji Masyarakat, no. 305, Th. XXII/ 15 Oktober 1980

Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta: 1993

Yuzar P, dkk., Kajian Nilai Budaya Naskah Abu Nawas, Balai Kajian Jarahnitra, Bandung: 2003

------------
Sumber : Buddhiracana ◙ Vol. 10\No. 1\ Januari 2005 BKSNT Bandung

Continue reading >>

Kala Sunda dan Orang Awam

Oleh Nandang Rusnandar

"LAUK buruk milu mijah" itulah peribahasa yang cocok ditujukan kepada Sdr. Irfan Anshory yang menulis tentang "Mengenal Kalender Hijriah" dimuat pada Harian Pikiran Rakyat pada hari Sabtu tanggal 28 januari 2006, karena beliau kurang mengetahui apa yang dimaksud dengan Kala Sunda. Kala Sunda ditelaahnya hanya sepotong-sepotong (!?).

Saya ingat benar kata-kata Cak Nun, "Apabila kita akan berbicara sesuatu, maka pelajari dan hatamkan dahulu sesuatu". Begitu pula dengan Kala Sunda, pelajari dan hatamkan Kala Sunda, baru kita bicara Kala Sunda yang sebenarnya. Bila dipelajari dengan seksama akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif apa dan bagaimana ia yang sebenarnya, sebelum kita memvonis sedemikian rupa. Mudah-mudahan tulisan ini merupakan ajakan bagi Sdr. Irfan Anshory untuk lebih mengenal Kala Sunda dengan benar, sebenar ia mengenal kalender Hijriah sebagai perbandingan ilmu. "Iqro, iqro, iqro!" Itulah sepenggal wahyu pertama untuk Nabi Muhammad dari Malaikat Jibril. Iqro yang holistic akan membuka cakrawala pemikiran yang lebih objektif lagi.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dengan benar untuk Sdr. Irfan Anshory, semisal pertama, siapa pencipta Kala Sunda itu. Abah Ali bukan seorang pencipta, melainkan ia hanya seorang yang menemukan kembali titinggal karuhun Sunda yang telah ditinggalkan begitu lama. Karena bila Abah Ali seorang pencipta kalender Sunda, maka ia harus sudah hidup ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, karena Kala Sunda
sudah dipergunakan, seperti dalam Prasasti Batu Tulis di Bogor (Prasasti Sri Jayabupati), yang kemarin ribut digali oleh seorang menteri agama (menurut kepercayaan Islam, harusnya menteri tersebut termasuk orang yang musyrik, karena mempercayai hal yang berbau tahayul). Dalam batu tulis tersebut tertulis tanggal yang sempurna

//O// Swasti cakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadaci cuklapaksa. Ha. Ka. Ra. Wara tambir...." Selamat. Dalam tahun Saka 952 Bulan Kartika tanggal 12 bagian terang hari hari yang Kaliwon - Ahad – Wuku Tambir...." Tanggal 12s Kartika 952 C, bertepatan dengan tanggal 7 Juli 1045 M.

Kedua, akurasi Kala Sunda, bukan main hebatnya. Menurut perhitungan astronomi tertanggal 1 Januari 2000 dinyatakan bahwa umur satuan tahun rata-rata 365.24218967 per hari per tahun rata-rata, sedangkan Kala Surya Sunda 365.2421875 hari per tahun rata-rata, jadi ada kekurangan 0.0000027 hari per tahun rata-rata. Angka ini bila kita kalikan 460829.49308756, hasilnya 1 (satu) artinya bahwa 460830 (empat ratus enam puluh ribu delapan ratus tiga puluh) tahun akan ada perbedaan atau geseran 1 (satu) hari, merupakan tahun panjang 366 hari. Jadi akurasinya Kala Sunda adalah 460830 tahun baru geser satu hari. Hebat bukan? Mana ada kalender yang seakurasi seperti ini?

Apakah betul Kala Sunda merupakan modifikasi dari berbagai kalender yang ada? Dengan melihat akurasi sedemikian hebatnya, benarkah Kala Sunda seperti pinang dibelah dua dengan Kalender Jawa? Ah..... kelihatannya sih memang sama, tapi bila dilihat dengan seksama akan terlihat jelas bedanya. Atau betulkah kalender Hijriah begitu
akuratnya? Ah, yang benar saja, mungkin karena penulis tidak mempelajarinya dengan seksama. Ketetapan tarikh Masehi setelah diperbaiki ialah 3.333 tahun, sedangkan tarikh Saka 460830 tahun itu jelas bedanya.

Ketiga, Bila kita mempelajari Kala Sunda dengan seksama, kita akan mampu mengubah tanggal sejarah yang ada di Indonesia. Apa sebab? Hampir semua sejarawan tidak melihat perbedaan antara tanggal Caka dan Saka. Padahal, dalam kala itu ada yang berpatokan pada Kala Surya "Matahari" dan Kala Candra "Bulan", ini merupakan koreksi demi lurusnya sejarah kita.

Dalam putaran sejarah, kita mengenal adanya kalender Hijriah dan Masehi. Pada waktu Islam menguasai pulau Jawa, yaitu pada zaman Mataram, penanggalan menjadi tidak tertib dan semrawut. Hal itu disebabkan penanggalan Hijriah bercampur dengan penanggalan Caka. Sultan Agung berusaha untuk menertibkan masalah ini. Dilakukanlah
penelitian oleh para empu, ahli nujum, pujangga, ulama, dan lain-lain yang akhirnya diputuskan untuk membuat satu sistem penanggalan baru.

Penanggalan ini merupakan gabungan 3 (tiga) sistem penanggalan yang ada saat itu yaitu Kala Candra Caka Sunda, Kala Surya Saka Sunda, dan Kala Hijriah. Kalender itu mengambil angka tahun dari Kala Surya Saka Sunda, ialah tahun 1555, nama bulan, hari, dan tanggal diambil dari kala Hijriah, sedangkan tata cara perhitungan penanggalannya diambil dari Kala Candra Caka Sunda. Naman-nama lain seperti wara, wuku, windu
tetap dipergunakan. Sedangkan nama tahun dalam sewindu diganti dengan nama baru yang berbau Arab, seperti Alip, He, Jim awal, Je, Dal, Be, Wau, dan Jim ahir, yang tadinya berasal dari nama binatang. Perbedaan itu terlihat seperti:

Sunda: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon
Jawa : Wage , Kaliwon, Manis, Pahing, Pon.

Penetapan tanggal persemian bersamaan juga pada saat peresmian Keraton Mataram pada hari Jumat Manis/Legi (Jawa), tanggal 1 Muharam tahun Alip 1555, Windu Kuntara, Wuku Kulawu, Wukukumasa Prangbakat, masawuku Kasanga. Tanggal ini bersamaan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan bersamaan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Dalam buku Primbon Adji Caka Manak Pawukon 1000 taun:

"Bareng saadening karaton Djawa Islam ing Mataram, ing sadjumenenge Sri Sultan Agung Prabu Anjakrakusuma, ana kaparenging karsa Nata jasa taun Djawa, awewaton taun Kamariah ija iku taun mitutut petungan rembulan, kang bisa njakup antarane kabudajan. Hindu lan Arab bareng paugeraning Taun Djawa iku wis kalakon kaangit kalajan mupakate para sudjana sardjana ahlum nujum, bandjur wiwit katindakake tumapake ana ing nusa Dja lan madura (kadjaba ing Banten kang orang kelebu wilajah Mataram)..."

Penanggalan baru ini diberi nama Kala Jawa Islam yang biasa disingkat dengan Kala Jawa, Tarikh Jawa, Alamanak Jawa, Tahun Jawa atau Tahun Saka. Peresmian itu dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram, wilayahnya meliputi daerah Mataram dan seluruh daerah bawahannya. Di Jawa Barat hanya Banten yang tidak termasuk bawahan Mataram, maka Banten tidak memakai penanggalan Jawa ini.

Apabila kita bandingkan antara tanggal peresmian Kalender Jawa tahun 1555 C dengan penanggalan yang dipergunakan dalam Batu Tulis Sri Jaya Bupati di Bogor yang berangka tahun 952 C. Jadi adanya Kala Sunda lebih dahulu dibanding dengan Kala Jawa yang baru diresmikan, sekira 606 tahun perbedaannya. Waduh jauh sekali keberadaannya antara Kala Sunda yang sudah dipakai oleh karuhun kita dengan Kala Jawa yang baru
diresmikan oleh Sultan Agung. Katanya kaya pinang dibelah dua? Benarkah begitu?

Perjalanan sejarah dilanjutkan oleh torehan penjajahan Belanda (VOC), maka Kala yang resmi dipergunakan adalah Masehi. Apabila penelitian yang berkaitan dengan tahun saka maka sejarawan selalu menambahkannya dengan angka 78. Kenapa? Orang Belanda yang ahli "timur" yang bernama Dr. Dubois M. Engina F. (1858-1940) yang menemukan fosil-fosil di Jawa, beranggapan bahwa awal kala Mataram sama dengan Saka India
diambil dari tahun yang terdapat dalam Tahun Saka Surya saat itu ialah 1555.

Angka inilah yang dijadikan awal tahun Mataram, yang bersamaan dengan tahun Masehi 1633 Masehi. Selisih kedua tarikh ini adalah 78 tahun. Angka ini sama dengan selisih tahun Saka India dengan Masehi, maka di sini pulalah kerancuan dimulai. Semua dianggap tahun Saka, padahal ada yang berdasarkan Candra dan Surya, itu sangat berbeda. Karena kita lihat lagi bahwa memindahkan tahun Caka ke tahun Masehi tidak hanya dengan menambahkan angkat 78 tahun saja, sebab dalam sejarah kita banyak menggunakan Kala Candra, seperti kalau dipindahkan ke tahun Hijriah dapatlah ditambah dengan angka 515 tahun, sebab mempergunakan perhitungan candra. Nah angka tanggal sejarah yang kini ada pun harus berubah.

Satu tahun Kala Surya umurnya 365 hari, sedangkan Kala Candra umurnya 354 hari, jadi ada perbedaan kira-kira 11 hari. Bila 1.000 tahun x 11 hari = 11.000 hari: 354/tahun = kira-kira 31 tahun perbedaannya. Maka jika kita melihat Tahun 0001 Caka Sunda itu bukan 0079 Masehi Julian, melainkan tahun 122 Masehi Julian.

Keempat, Sebagai bahan iqro untuk memperdalam kekayaan Sunda yang tidak hanya kalender saja, penulis mengajak semuanya untuk menengok sejarah. Ketika Ki Sunda dahulu membuat kalender ribuan tahun yang lalu, maka umur Ki Sunda sudah sangat tua. Hal itu terbukti dengan penemuan baru yang dimuat dalam harian ini pada tanggal 23-24 Januari 2001 "Ditemukan Bukti Keberadaan Benua Atlantis" Oleh Winda D. Riskomar. "Diduga keterkaitan masyarakat Atlantis dengan Indonesia, yang pada waktu itu bernama Sunsa-Dwipa..." (Sunda = Sunda, Dwipa = Pulau, Sunsa Dwipa = Pulau Sunda; penulis & Bah Ali). Jadi menurut keterangan di atas, umur Ki Sunda sebanding dengan Masyarakat Atlantis yang hilang.

Nah, ketika itu, masyarakat Sunda pasti sudah megenal "basa" Hal itu terbukti semua benda yang ada di Sunda pasti mempunyai nama. (Dalam penataran Dialektologi tahap I Juni-Agustus 1976-Proto Austronesia Etyma Constituting An Austronesian Cognate List, oleh Dr. Bernd Nothofer, digambarkan bahwa Porto Sundic (Sunda) adalah induk bahasa Melayu, Madura, Bali, Jawa, dsb.) Jelas di sini bahwa Ki Sunda sebelum bisa mengutak-atik kalender, mereka sudah menguasai "Calistung": membaca, menulis, dan berhitung. Menulis dengan aksaranya sendiri bukan berguru dari bentuk tulisan orang lain, dan berhitung pun sudah mengenal apa yang kita disebut perhitungan secara matriks, atau
istilah Sunda Biras. Bukti penggunaan perhitungan secara matrikh dapat dilihat dalam bahasa, karawitan, dan kalender itu sendiri.

Dengan adanya tulisan ini, maka penulis berharap bagi masyarakat Sunda, perlu identitas primordial yang dijadikan suatu ikatan kebersamaan. Dalam hal ini Kala Sunda yang diciptakan Karuhun harus menjdai suatu pride dan obligation bagi Ki Sunda sendiri.

Kita harus membuat konsensus bersama yang sangat esensial dalam melestarikan Kala Sunda ini, sebagai pembentuk identitas kolektif bangsa. Kala Sunda harus menjadi sumber inspirasi dan aspirasi generasi muda Ki Sunda. Dengan adanya kalender ini harus menjadi tolok ukur masyarakatnya, seperti apa yang dikemukakan dalam "Winkler Prins Ensiklopaedie Zesde Gegeel Nieuwe Druk. 1951", "Umumnya, dengan adanya kalender atau penanggalan di sebuah masyarakat jadi bukti untuk mengukur derajat peradabannya, karena ketelitian pananggalannya memperlihatkan ukuran tingkatan epintaran/intelektual masyarakatnya".

Semoga.***

Sumber: http://sundasamanggaran.blogspot.com
Continue reading >>

Konsep dan Fungsi Pengelolaan Data Kebudayaan

Oleh Drs. Toto Sucipto

Pendahuluan

Masyarakat Indonesia bangga dengan kemajemukan etnik/suku bangsa dan multikultur. Akan tetapi tidak banyak yang mengenal etnik dan kebudayaan lain di luar kebudayaannya sendiri, kecuali unsur-unsur kebudayaan etnik tertentu yang menonjol dan memang terkenal. Sebaliknya, kebudayaan asing malahan banyak dikenal karena menjadi menu utama media massa setiap hari. Akibatnya, banyak yang kemudian menyisihkan kebudayaan lokal dan lebih banyak “menyantap” kebudayaan global.

Steak daging sapi menjadi lebih populer di kalangan generasi muda daripada sate maranggi khas Wanayasa-Purwakarta, misalnya. Tank top dan mini skirt, busana mutakhir yang lebih sedikit menutupi tubuh, lebih populer dibanding kebaya encim dan baju kampret. Gaya arsitektur dari berbagai negeri yang belum tentu cocok dengan iklim dan sruktur tanah di Indonesia, lebih populer daripada arsitektur tradisional yang mencerminkan pola-pola adaptasi para pendahulu.

Akibat derasnya arus informasi tentang berbagai kebudayaan dunia yang melanda masyarakat Indonesia dewasa ini, tidak jarang orang kemudian bersikap a priori dan berprasangka buruk ketika berbicara tentang kebudayaan lokal, dan melontarkan tuduhan puritanisme etnik. Bahkan lebih jauh lagi, terlontar pula tuduhan yang dialamatkan kepada kebudayaan lokal sebagai biang keladi munculnya ideologi separatisme di Indonesia.

Sebenarnya, tidak diragukan bahwa arus informasi tentang kebudayaan dan peradaban dunia itu sangat penting artinya sebagai perangsang (stimulan) dinamisasi kebudayaan bangsa. Akan tetapi, kita menyadari bahwa sumber informasi tentang kebudayaan asing itu kurang diimbangi dengan penayangan informasi dan ketersediaan data tentang kebudayaan-kebudaayaan yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Menghadapi derasnya arus informasi kebudayaan itu, tidak diragukan, mempengaruhi sikap dan pola tingkah laku budaya bangsa Indonesia pada umumnya. Ada sementara pihak yang bersikap terbuka dan siap menyerap unsur kebudayaan asing yang dianggap menguntungkan. Sebaliknya tidak sedikit di antara mereka yang justru menutup diri dan meng”haram”kan setiap unsur kebudayaan baru, tanpa pilih. Kalau perlu mereka berusaha mensucikan budayanya dengan dalih untuk menghindarkan kehancuran.

Kedua sikap itu menunjukkan gejala yang kurang sehat. Sikap pertama yang tidak kritikal itu dapat mengancam pengembangan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Sementara sikap kedua cenderung menghancurkan kebudayaan dan fungsinya sebagai kerangka acuan bagi para pendukungnya dalam menghadapi tantangan zaman. Sikap keterbukaan harus diimbangi dengan kepekaan untuk memilah-milah unsur kebudayaan yang hendak diserap (adoption) dalam pengembangan kebudayaan. Sebaliknya sikap hati-hati hendaknya memperhatikan dinamika masyarakat dan tantangan yang harus mereka hadapi.

Dalam kaitannya dengan akulturasi atau kontak-kontak antar kebudayaan yang semakin meningkat intensitasnya, hampir tidak mungkin bagi setiap masyarakat untuk menutup diri. Sebaliknya dalam menghadapi mobilitas penduduk dan meningkatnya intensitas interaksi sosial lintas lingkungan sukubangsa, kita tidak boleh kehilangan orientasi. Oleh karena itu, pendidikan kebudayaan dalam arti luas menjadi sangat penting dan tidak mungkin diabaikan dalam mempersiapkan generasi penerus yang bertanggungjawab.

Di lain pihak banyak lembaga pendidikan dewasa ini, termasuk keluarga, yang kurang menyadari akan arti pentingnya pendidikan kebudayaan dalam membekali generasi penerus dengan pengetahuan dan keterampilan. Masyarakat, terutama di negara yang sedang berkembang, mendahulukan perjuangan untuk memenuhi kebutuhan biologik yang mendasar, daripada merawat kebudayaan yang dianggap terlalu mewah (luxurious). Kebanyakan keluarga mengabaikan, kalau tidak melupakan, fungsi pendidikannnya (educative function) dalam mempersiapkan generasi penerus dan pendukung kebudayaan yang bertanggungjawab.

Lemahnya kesadaran dan keperdulian masyarakat dalam merawat kebudayaan itu merupakan gejala umum yang dihadapi oleh kebanyakan negara yang sedang berkembang. Dihadapkan pada kebutuhan hidup yang mendesak, seringkali masyarakat tidak berdaya untuk memikirkan hal yang tidak langsung berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari. Karena itu peranan birokrasi menjadi sangat penting, apabila tidak dikatakan dominan, dalam perawatan kebudayaan yang masih dianggap sebagai suatu kemewahan. Peranan pemerintah dalam pelestarian (perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan) kebudayaan masih diperlukan, baik dalam penyelenggaraan pendidikan kebudayaan, perawatan dan promosi kebudayaan, serta penelitian dan perekaman nilai-nilai budaya.

Salah satu upaya untuk menopang kegiatan pelestarian kebudayaan secara aktif adalah revitalisasi fungsi stakeholder bidang kebudayaan untuk melanjutkan atau bahkan mulai menghimpun data dan informasi kebudayaan serta mempersiapkan bahan kebijakan kebudayaan secara terpadu. Lembaga-lembaga tersebut selayaknya mempunyai dedikasi yang besar dalam upaya :

1. Menghimpun data dan informasi kebudayaan dalam bentuk penelitian maupun penulisan dan perekaman.

2. Mempersiapkan bahan kebijakan kebudayaan yang diperlukan untuk menunjang pembinaan kesadaran dan bangga dengan kebudayaan milik sendiri

3. Memberikan pelayanan informasi kebudayaan kepada masyarakat luas yang memerlukannya

4. Mengkoordinasikan penelitian dan pengkajian kebudayaan antar lembaga maupun perorangan (S. Budhisantoso, tanpa tahun dalam “Pentingnya Pendirian Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional”).

Pengelolaan Data kebudayaan
Data kebudayaan yang memuat informasi mengenai kekayaan budaya secara relatif lengkap sudah lama diharapkan kehadirannya oleh masyarakat dan para pejabat pembuat kebijakan dalam pengelolaan kebudayaan. Bisa dibayangkan, kalau melihat kehidupan kebudayaan tidak secara menyeluruh, maka kebijakan yang diambil hanyalah berbagai masalah yang ada di depan mata saja. Dengan demikian, akan banyak masalah kebudayaan yang terlantar. Berbeda apabila melihat secara keseluruhan karena ketersediaan data kebudayaan yang relatif lengkap, kita akan dapat menentukan langkah-langkah yang lebih tepat, misalnya dengan sistem prioritas, atau sinergitas dengan berbagai instansi terkait secara bersama-sama.

Mengenai pengelolaan data kebudayaan, sebelum era Departemen Kebudayaan dan Pariwisata telah dirintis SIKT (Sistem Informasi Kebudayaan Terpadu), tetapi agaknya menjadi mandul dan akhirnya berhenti. Banyak kendala, antara lain permasalahan umum pengisian dan pengolahan data serta permasalahan umum managemen data.

Permasalahan umum pengisian dan pengolahan data :

1. Kurangnya pengetahuan petugas mengenai bidang pekerjaannya

2. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan petugas atas peralatan dan program aplikasi yang dipergunakannya

3. Belum terjalinnya komitmen petugas atas bidang pekerjaannya

4. Kurangnya inisiatif petugas untuk mengembangkan bidang pekerjaan yang berhubungan dengan data

5. Belum terbentuknya kesadaran untuk melakukan pemeliharaan sumber data dan data.


Adapun permasalahan umum managemen data, meliputi :

1. Banyaknya disiplin ilmu dalam kajian kebudayaan

2. Setiap unit kerja menghendaki cara yang berbeda di dalam mengelola dan mendudukan data

3. Belum terdapatnya sistem yang baku di dalam mengelola data dan sumber data

4.Terdapatnya uraian-uraian tugas dan fungsi instansi bidang kebudayaan yang bersifat membatasi

5. Belum terbentuknya instansi khusus yang menangani informasi kebudayaan

6. Tidak seragamnya bentuk organisasi dinas di lingkungan Pemerintah Daerah yang menangani kebudayaan, termasuk uraian fungsi, visi, dan misinya.

Apabila dicermati, kendala utama dari kurang berfungsinya pengelolaan data kebudayaan adalah sumber daya manusia. Antara lain misalnya Tim Pelaksana program SIKT yang waktu itu (tahun 2002an) sempat dibentuk, terpencar karena mendapat tugas-tugas baru pada unit-unit kerja yang berbeda; dan yang lebih penting, SDM di daerah kurang memahami form/modul teknis karena relatif kurangnya diklat. Sumber daya manusia adalah faktor terpenting dalam seluruh operasi SIKT, mengingat penguasaan program maupun metode pengumpulan data di lapangan berhubungan erat dan berpengaruh besar terhadap hasil akhir.

Tahun 2006, Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Depbudpar kembali merintis dengan rencana dan program pembuatan Peta Kebudayaan Indonesia. Pemrakarsanya adalah Prof. DR. Sri Hastanto, yang kini telah purna tugas dari jabatannya sebagai Direktur Jenderal NBSF. Peta Kebudayaan Indonesia adalah peta elektronik yang memuat informasi lengkap tentang berbagai karya budaya yang dimiliki segenap suku bangsa Indonesia yang berjumlah lebih dari 500 suku bangsa. Informasi yang disajikan berbentuk deskripsi disertai gambar, skema, foto dan informasi pendukung lainnya. Informasi tersebut disertai juga dengan bentuk audio-visual dan referensi guna memberi keluasan pandang para pengguna, yang dapat diakses lewat internet.

Basis penyajian Peta Kebudayaan Indonesia berdasarkan daerah administrasi (provinsi, kabupaten dan kota), sebab baru itulah pembagian wilayah yang sudah jelas di negeri ini. Dengan demikian, nantinya mungkin sebuah karya budaya muncul di beberapa daerah administrasi yang berbeda. Hal seperti itu bisa dimungkinkan karena sebenarnya beberapa daerah administrasi itu secara kultural sama, atau disebabkan oleh penyebaran pemerataan jumlah penduduk melalui kebijakan transmigrasi. Misalnya, upacara “Seren Taun” (upacara pesta panen atau memasukkan padi ke leuit) akan muncul di Kabupaten Sukabumi (Komunitas adat Kasepuhan Ciptagelar) dan muncul pula di Kabupaten Bandung (Komunitas adat Kampung Cikondang). Hal itu disebabkan keduanya secara kultural adalah satu, berkebudayaan Sunda. Keduanya dipisahkan oleh kehendak politik (pemekaran daerah) menjadi dua kabupaten yang berbeda. Contoh lainnya lagi, “karedok” yang banyak dijumpai di setiap pelosok Jawa Barat, bisa muncul di Sulawesi Selatan atau Lampung karena kebijakan transmigrasi.

Menu yang disajikan melalui perangkat elektronik itu antara lain memuat : informasi dasar (luas daerah, jumlah penduduk, letak, perbatasan, hasil bumi, industri, dll), serta karya budaya yang meliputi : kepercayaan dan sistem religi, sistem kekerabatan, sistem perekonomian, arsitektur, pakaian adat, makanan tradisional, pengobatan tradisional, permainan rakyat, dll.

Menurut Sri Hastanto (2006 :4), untuk dapat menyajikan hal seperti terurai di muka, dibutuhkan komponen sebagai berikut :

1. Manajemen; Tim yang melaksanakan perencanaan pembangunan Peta Kebudayaan Indonesia baik administratif maupun operasional, terdiri atas : kelompok penentu kebijakan, kelompok administrasi, dan seorang Supervisor.

2. Format Elektronik; sebuah software yang dapat dioperasikan dengan komputer.

3. Penyusun Entries; sekelompok personal yang terlatih mengumpulkan data karya budaya dan menyusunnya menjadi sebuah entry yang siap dimasukkan ke dalam ruang dalam format elektronik, terdiri atas : penyusun teks, fotografer, perekam suara, dan pembuat video.

4. Pusat Entries Daerah; berkedudukan di Kabupaten, Kota atau Provinsi. Personalnya terdiri atas Penyusun Entries, penanggungjawab, alamat pos yang jelas, serta alamat e-mail.

5. Penyunting; tim kecil yang bertugas memeriksa, melakukan koreksi format maupun substansi dan menyunting entries yang masuk dari Penyusun Entries agar dapat sesuai dengan isi keseluruhan dari Peta Kebudayaan Indonesia.

6. Konsultan Teknis; tim yang memberikan konsultasi teknis kepada Manajemen atas hal-hal yang berhubungan dengan teknis IT.

7. Tim Teknis IT; tim yang bertanggungjawab atas keakuratan kerja software dan hardware yang dioperasikan, menyusun format elektronik dan pebuatan situs, serta hal-hal lain yang bersangkutan dengan sistem komunikasi internet atas permintaan Manajemen.

Penutup
Sebagai pendukung penting dalam kegiatan pelestarian (perlindungan, pengembangan, pemanfaatan), pemecahan masalah, pengambilan keputusan, hingga penetapan peraturan dan kebijakan, peran data dan informasi kebudayaan yang berkualitas menjadi sangat strategis. Artinya bahwa informasi tidak saja sebagai bahan masukan pokok untuk pimpinan, tetapi juga sebagai aset utama lembaga yang harus dikelola melalui penggunaan sistem informasi (SI) yang profesional.

Berbagai kendala operasional dalam penyelenggaraan pengelolaan data kebudayaan yang perlu diantisipasi antara lain :

1. Pembenahan ke dalam (hardware/infrastruktur jaringan, software/ aplikasi pendukung e-gov, brainware/tenaga pengelola/pranata komputer, infoware/data dan informasi, dan organiware/organisasi pengelola)

2. Mekanisme alur data

3. Penyajian (visualisasi) data dan informasi kepada pengguna (user).

Berkaitan dengan mekanisme alur data perlu dirumuskan konsep dan implementasinya yang substansinya terdiri atas :

1. Resource : sumber data, baik yang telah ada maupun yang harus disiapkan

2. Kualifikasi : data dan informasi yang lengkap, terstruktur dan akurat

3. Klasifikasi : pengelompokan data dan informasi sesuai kebutuhan dan tingkat kepentingannya (daerah, regional, nasional, bahkan internasional)

4. Metode transmisi : misalnya menggunakan jaringan internet atau private network.

Demikianlah beberapa pemikiran dalam mengembangkan sistem informasi / pengelolaan data kebudayaan untuk dapat lebih dioperasionalkan oleh satuan kerja terkait. Kunci keberhasilan rencana pengembangan ini adalah sangat tergantung dari kesadaran dari pimpinan satker/SKPD untuk melaklukan perubahan yang fundamental dari cara berfikir tradisional ke cara berfikir yang sudah berorientasi ke IT sehingga dapat membentuk adanya E-Leadership di lingkungan kerja masing-masing.

@Wisma Sumbawa, April 2009

Sumber:
Makalah disampaikan dalam “Sinkronisasi Program Kebudayaan”, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, 18 April 2009.

Continue reading >>

Pelestarian Musik Butabuh sebagai Salah Satu Unsur Kebudayaan Lampung

Oleh: Drs. Nurdin Darsan, P.Si

Provinsi Lampung merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang kaya akan seni dan budayanya, hal ini terbukti dengan dimilikinya tulisan atau aksara Lampung yang sampai saat ini masih kita lestarikan dan disosialisasikan baik kepada anak-anak didik ataupun masyarakat luas, sihingga diharapkan salah satu kekayaan seni dan budaya lampung dapat menjadi identitas di negerinya sendiri.

Demikian juga halnya dengan kesenian Lampung yang kental dengan seni tradisinya dapat digolongkan menjadi 2 golongan, yaitu unsur seni tradisi yang ada di masyarakat Sai Batin dan seni tradisi yang ada di masyarakat Pepadun . Pada masyarakat Sai Batin seni tradisi baik seni tari, musik maupun sastra lisan sampai dengan saat ini masih sering kita lihat atau kita jumpai seperti seni tari hali bambang, tari sai batin, tari batin, tari kipas, tari sekura, dan sebagainya.

Demikian juga dengan seni musiknya seperti gamolan balak atau talo balak, gambus lunik atau gambus anak buha, serdam, tembangan, gamolan pring atau lebih dikenal dengan cetik butabuh atau hadra.

Untuk sastra lisan atau sastra tutur seperti muayak, hahiwang, ngehahedo, bubandung, butetah, segata.

Demikian juga, kesenian yang berkembang dimasyarakat Pepadun. Seni tari seperti ; tari cangget, tari melinting, musik talo balak, gitar klasik, sastra lisan ringget, pisaan, pepancokh, yang sampai saat ini pula masih sering kita dengar dan kita lihat baik melalui pementasan festival atau pementasan yang dilaksanakan melalui media elektronik.

Musik Butabuh atau Hadra
Musik butabuh atau hadra merupakan salah satu musik tradisional Lampung dan jenis musik tradisi ini lebih sering kita jumpai di daerah Lampung yang letaknya di daerah pesisir, hal ini memiliki latar belakang seiring dengan sejarah dan perkembangannya sebagai salah satu sarana syiar agama Islam di Provinsi Lampung. Dengan sarana dan alat musik seperti tembangan atau kerenceng serta lantunan lagu syair berdzanji musik butabuh atau hadra ini ditampilkan.

Hadra terdiri dari 2 bagian atau kelompok yaitu hadra baru dan hadra lama demikian juga dengan zikirnya yaitu zikir baru dan zikir lama.

Hadra lama atau zikir lama merupakan kesenian tradisional Lampung yang bernafaskan Islam, di samping alat musik dan syair-syairnya pun seutuhnya merupakan syair-syair berdzanji atau pujian-pujian terhadap Rosul dan para Syekhnya.

Hadra atau zikir baru merupakan seni Islam yang sudah dikombinasikan dengan syair-syair atau pantun daerah Lampung baik pantun melayu ataupun pantun daerah Lampung itu sendiri.

Hadra dan zikir ini sering kita jumpai pada saat acara pesta adat atau nayuh dan biasanya dilantunkan pada saat malam hari menjelang satu hari dalam pelaksanaan pesta atau begawi dan yang membawakannya pun orang tua atau bapak-bapak yang usianya sudah berumur (usia lanjut).

Seiring dengan pelestarian musik hadra sebagai salah satu unsur kebudayaan Lampung diharapkan kepada generasi muda untuk dapat mengenal dan mempelajari serta melestarikan kesenian tradisi ini sehingga pada masa-masa yang akan datang kesenian tradisi Lampung akan tetap lestari dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.


Contoh Lagu Tabuh Hadra :

TOHAL ARBI

Tohal arbiii ……………………………….
Allah nasbiii ………………………………
Allah ………………………………………
Assalamualaikum …………………………
(Tabuh Yahum)

Mansolu alaihiii …………………………..
Lil fadlil hu…………. bi …………………
Allah ………………………………………
Alaikum salam Tabuh Yahum
(Tabuh Pandian)

Alaihissalam Allah Alaihissalam 2x
Alaihissalam Allah Alaihissalam 2x
Satu di kali Satu Delapan kali delapan
Kami mintak Bantu
Saudara kiri kanan (Tabuh kuluman)

C C C C D 2x
Alaihissalam Allah Alaihissalam 2x
(Tabuh Ketipung)

(Liter)
Alaihissalam, Alaihissalam pitaulid dawam
Yamaulalmawalli ya allim biha
A a a llim …………… (tabuh takhu yahum)

Alaihisa…….. a a laam
Ya mulai dari ngulu
Pigangan tanjung lubuk
Allah …………………
Pigagan pulau kambang (Tabuh duk tang)

C D C C D 2x
Iya maulai, maulai mawalli
Iya a alim, a allim bi halli
Allim bi tajma, robul alamin 2x
Yahu Ya maulai
(Tabuh ketibung dalam)
(Tabuh penutup)

Sumber :
Makalah disampaikan pada Kegiatan Penayangan Film dan Diskusi Nilai Budaya yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung bekerjasama dengan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Propinsi Lampung di Ruang Abung Balai Keratun Kantor Pemda Propinsi Lampung Sabtu, 21 Juli 2007

http://wisatadanbudaya.blogspot.com
Continue reading >>

Mengenal Kota Depok

Oleh Muhammad Aditya

Pendahuluan
Latar Belakang Penulisan

Penulisan karya tulis ini dilatarbelakangi oleh suatu lomba yang diadakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Sekaligus dilatarbelakangi oleh keinginan saya selaku penulis yang ingin mengetahui Sejarah Kota Depok. Selain itu, penulisan ini dikarenakan masih banyaknya warga-warga yang masih tabu akan sejarah kotanya sendiri.

Permasalahan
Banyak warga Depok yang belum mengetahui perkembangan Kota Depok dari sebuah dusun terpencil sampaimenjadi kota besar.

Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari pembuatan karya tulis ini adalah mengikuti Lomba Penulisan Sejarah Daerah Lokal. Kedua sebagai acuan para pembaca dalam membelajari sejarah Kota Depok agar tidak ada kebingungan nantinya.

Metode Penulisan
Data-data yang ada di dalam karya tulis ini diperoleh melalui berbagai macam cara. Cara yang utama adalah dengan mencari artikel-artikel tentang Kota Depok di internet dan wawancara dengan narasumber.

Kegunaan Penulisan
Kegunaan karya tulis ini adalah:
Sebagai bahan acuan dalam mempelajari sejarah Kota Depok

Melatih kreatifitas murid-murid SMA pada umumnya dalam menyusun sebuah karya tulis yang baik dan benar

Mengenal obyek-obyek sejarah Kota Depok
Sistematika Penulisan
Penyusunan karya tulis ini diatur dalam susunan:
BAB I : Pendahuluan
BAB II,III : Pembahasan
BAB IV : Kesimpulan
Daftar Pustaka

Sejarah Kota Depok
Asal Mula Kota Depok

Kota Depok dahulu merupakan sebuah dusun terpencil di tengah hutan belantara, yang kemudian pada tanggal 18 Mei 1696 seorang saudagar Belanda eks VOC bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di kawasan Depk seluas 1224 hektar dengan harga 70o ringgit. Selain di Depok ia juga membeli tanah di Jatinegara, Kampung Melayu, Karang Anyer, Pejambon Mampang dan khusus tanah Depok bersifat tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Belanda.

Sebagai tuan tanah partikelir, Chastelein berhak mengurus tanahnya dan memerintah sesuai dengan garis kebijaksanaan yang ditetapkannya sendiri. Dan ia memang menyiapkan dengan sirus pemerintahannya yang sekarang digunakan sebagai rumah sakit harapan yang terletak di jalan Pemuda.

Dengan mengerahkan 150 orang budak yang ia dapat dari kawasan Indonesia Timur (kalimantan, sulawesi, Bali dan sedikit Betawi). Ia menetapkan cukai sebesar 20% dari setiap panen padi yang berlangsung.

Rupanya Chastelein berhasil membangun Depok sampai awal abad 20. Suasana Depok memang asri, iklim sejuk dengan hamparan sawah di sana sini. Pohon babmbu merumpun dan jalan berbatu nampak bersih. Selama di Depok Chastelein mengawini dua wanita pribumi. Dari salah seorang isterinya lahirlah Maria Chastelein yang diakuinya dihadapan notaris.Kemudian seorang anaknya lagi diberi nama Catharina van Batavia.

Padahal ketika ia baru tiba beberapa bulan di Batavia ia menikahi seorang gadis Belanda bernama Catharina van Vaalberg yan dikaruniai seorang putera yang dinamakan sama dengan ayahnya Antoni Chastelein.

Chastelein juga melancarkan misi menyebarkan agama Kristen di Depok. Dengan membangun sebua gereja yang terbuat dari kayu pada tahun 1700. Awal abad ke-19 gereja itu direnovasi dan hancur karena gempa pada tahun 1836. Tetapi gereja tersebut dibangun kembali. Setelah bertahun –tahun lamanya. Gereja yang terletak di jalan Pemuda itu masih kokoh sampai sekarang. Gereja Emmanuel begitu biasanya ia sebut.

Selain gereja di Depok dibangun sekolah seminari pertama di Indonesia, pada tahun 1878 sekiolah itu teah berhasil menghasilkan pendewta-pendeta baru. Dan setiap tahunnya para penginjil itu banyak tumbuh di Indonesia. Sekarang gedung sekolah tersebut digunakan sebagai panti wreda yang letaknya di dekat stasiun Depok Lama.

Kembali ke masa Chastelein, Chastelein pada waktu itu sangatlah murah hati. Buktinya beberapa bulan sebelum ia meninggal ia sempat membuat surat wasiat yang berisikan seluruh tanahnya uang serta emas dan hewan-hewan ternaknya diwariskan kepada pekerjanya yang terdiri dari 12 warga.

Marga-marga tersebut adalah Soedira, Leander, Laurens, Jonathans, Loen, Tholense, Samuel, Joseph, Bacas, Jacob, Isakh, Zadokh.

Pada tahun 28 Juni 1714 Chastelein wafat. Kedua belas marga tersebut masing-masing tiap keluarga memperoleh uang sebesar 16 ringgit. Selain itu, ia juga mewariskan 2 perangkat gamelan bertahtakan emas dan 60 tombak berlapis perak. Namun sayangnya benda-benda itu hilang ketika revolusi terjadi.

Tak hanya sampai disitu, isteri pertama Chastelein, Catharina van Vaalberg menggugat atas warisan yang diberikan kepada 12 marga itu. Namun gugatannya ditolak.

Penamaan Kota Depok
Banyak kalangan yangbingung dengan asal muasal Kota Depok. Ada yangmengatakan kata padepokanlah asal dari kata Depok. Kenapa? Karena menurut sejarah singkat KotaDepok dulu di Depok merupakan padepokan para pejuang Pajajaran yang kala itu berseteru dengan Banten dan Cirebon.

Menurut sesepuh asli Depok, kata Depok bisa berart pemukiman yang dapat dibanggakan atau berasal dari De Volk.

Ada juga yan mengatakan bahwa Depok merupakan singkatan dari De Everste Protestante Organisatie van Kristenen yang dibuat oleh Chastelein.

Namun pendapat-pendapat di atas disanggah oleh H. Nawawi Napih, seorang warga Depok asli yang sejak 1991 mengadakan penelitian membantah “Depok baru Dikenal” sejak masa Cornelis membangun perkebunan di sini.

Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh H. Bahrudin Ibrahim dalam tulisannya di dalam buku “Meluruskan Sejarah Depok”. Ia mengutip cerita Abraham van Riebeeck ketika pada tahun 1703, 1704 dan 1709 mengadakan ekspedisi menyusuri sungai Ciliwung melalui rute Batavia – Cililitan – Tanjung Barat – Seringsing (srengseng) – Pondok Cina – Depok – Pondok Pucung (terong).

Jadi sampai sekarang masih rancu tentang asal muasal nama Kota Depok.

Peninggalan Chastelein
Selama masa hidupnya Chastelein meninggalkan beberapa bangunan sejarah antara lain:

Gereja Immanuel lokasi di jalan Pemuda Depok

Rumah Sakit Harapan (dahulu ada kantor pemerintahan Chastelein) lokasi di jalan Pemuda Depok

Rumah Cornelis Chastelein sendiri yang sekarang menjadi kantor Yayasan Cornelis Chastelein

Serta bangunan-bangunan para pengikut Chastelein di Depok berjumlah + 120 namun sekarang hanya ada 45 yang asli dan yang lainnya sudah direnovasi.

Sejarah Baru Depok
Bergabungnya Depok dengan RI

Perlu diketahui setelah proklamasi 17 Agustus 1945 wilayah Depok masih dalam kekuasaan Belanda. Hal ini tetap berlangsung meskipun kedaulatan Indonesia telah diakui tahun 1949.

Pada tanggal 4 Agustus 1952 pemerintah Indonesia mengambil daerah Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok denganmembayar ganti rugi sebesar Rp. 229.261.26 kepada seluruh marga yang ada di Depok. Seluruh tanah di Kota Depok resmi menjadi milik pemerintah Republik Indonesia kecuali hak-hak Eingendom dan beberapa bangunan seperti: gereja, sekolah, pastoran, balai pertemuan dan pemakaman. Dan sejak saat itu pula berdiri LCC (Lembaga Cornelis Chastelein).

Setelah daerah kekuasaan penuh RI Depok merupakan sebuah kecamatan yang berada di bawah lingkungan kawedanan wilayah Parung yang meliputi 21 desa.

Namun pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun di Depok. Dan pada tahun 19881 Depok resmi menjadi Kota Administratif. Peresmian dilakukan oleh menteri dalam negeri pada saat itu yaitu H. Amir Mahmud.

Selama 17 tahun, Kota Administratif Depok mengalami beberapa kali pergantian walikota yaitu:

(Alm) Drs. Rukasah Suradimadja (1982 – 1984)
Drs. H.M.I. Tamdjid (1984 – 1988)
Drs. H. Abdul Wachyah (1988 – 1991)
Drs. H. Muhammad Masduki (1991 – 1992)
Drs. H. Sofyan Safari Hamim (1992 – 1996)
Drs. H. Badrul Kamal (1997 – 1999)

Pada tanggal 27 April 1999 Depok secara resmi berubah menjadi Kota Depok dan Drs. H. Badrul Kamal resmi menjadi Walikota Madya yang pertama periode 1999 – 2004. Untuk periode 2005 – 2010 belum ada hasil pasti dari pilkada kemarin. Dua kubu yang berseteru adalah Drs. H. Badrul Kamal dan Nur Mahmudi Ismail.

Mengenal Kota Depok
Sebelum mengenal kota Depok lebih jauh ada kiranya kita mengetahui terlebih dahulu menenal letak geografis kota Depok, dan keadaan penting lainnya di kota Depok.

-

Luas wilayah: 20.504.54 Ha (200,29 Km)

-

Jumlah penduduk: 1.335.734 jiwa (tahun 2005)

-

Jumlah Kecamatan 6 buah di antaranya adalah:

Pancoran Mas (6 kelurahan 5 desa)
Beji (6 kelurahan)
Sukma Jaya (11 kelurahan dan 11 desa)
Cimanggis (1 kelurahan dan 12 desa)
Sawangan (14 desa)
Limo (8 desa)

-

Letak geografis kota Depok:


Secara administratif kota Depok mempunyai batasan-batasan sebagai berikut:


a.

Sebelah utara berbatasan dengan DKI Jakarta dan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangerang


b.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bojonggede dan Cibinong Kabupaten Bogor


c.

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gunung Sindur dan Parung Kabupaten Bogor


d.

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor dan Kecamatan Pondok Gede Kota Bekasi

-

Daerah wisata di Kota Depok:


a.

Hutan raya Pancoran Mas


b.

Kawasan pemancingan yang tersebar di seluruh kota Depok


c.

Depok Lama (rumah peninggalan Chastelein) dan bangunan tempo dulu


d.

Studio Alam TVRI.

Tumbuh Kembang Kota Depok
Pada tahun 1976 Presiden Soeharto meresmikan perumnas di Depok dan pada saat itu penduduk di Kota Depok hanya sekitar 100.000 jiwa saja.

Namun setelah ada keputusan resmi mengenai pemindahan sebagian besar kegiatan akademis Universitas Indonesia ke Depok yang akan menempati areal seluas 318 hektar pada tanggal 5 September 1987 menjadi faktor pertumbuhan kota Depok seperti sekaranga. Kala itu jumlah penduduk hanya di bawah 700.000 jiwa.

Dahulu pemerintah meramalkan Depok pada tahun 2005 ini dihuni tidak lebih dari 800.000 jiwa. Namun pada daya ternyata sampai semester pertama tahun 2005 ini jumlah penduduk kota Depok telah mencapai 1.335.734 jiwa. Angka pertumbuhan yang menakjubkan bukan?

Saat ini perbandingan lahan terbuka hijau dengan kawasan terbangun adalah 55 : 45. Sampai dengan tahun 2010 pemerintah Depok mengalokasikan 50% areal kota untuk kawasan hijau dan sisanya sebagai kawasan terbangun. Angka yang tinggi dibanding kota-kota penunjang jakarta lainnya.

Untuk perencanaan pembangunan perumahan Pemkot Kota Depok telah memperkirakan kebutuhan penggunaan tanah untuk perumahan seluas 6.024 hektar atau sekitar 30% dari total wilayah pada tahun 2010 menjadi 90.667unit.

Untuk penggunaan lahan industri Pemkot Depok telah menyedakan lahan seluas 690 hektar atau hanya sekitar 3% dari lahan kota Depok dan hanya dibatasi sampai 5,49% pada tahun 2010. Kegiatan industri di Depok dibatasi karena Depok dirancang menjadi kota perumahan, perdagangan, dan jasa.

Untuk masalah anggaran belanjda darah, Depok menganggar-kan dana terbesar pada sektor kesehatan dan pendidikan yaitu Rp. 94 milyar (24%). Dan sektor pekerjaan umum termasuk pemukiman Rp. 87 milyar (22,9%), sektor industri hanya mendapat 0,9% / 3,4 milyar. Sisanya dianggarkan untuk pembangunan.

Problematika Kota Depok
Setelah diberi hak otonom permasalahan yang dihadapi oleh Pemkot Depok semakin kompleks saja. Sebagai kota penunjang DKI Jakarta wajar bila laju pertumbuhan penduduk dankebutuhan pemukiman di Kota Depok meningkat tajam. Pemkot Depok menyikapi masalah ini secara serius. Ini terlihat dari banyaknya perumahan yang berdiri di Kota Depok. Dan hadirnya pusat perbelanjaan di Kota Depok.

Meksipun tidak semua permasalahan tertangani oleh Pemkot Depok, kita ambil contoh masalah persampahan di Kota Depok yang sangat tinggi. Dinas Kebersihan dan pertamanan kota Depok hanya dapat melayani 40% dari total seluruh timbunan sampah. Kemudian masalah air bersih yang hanya mencakupi 54,26% dari keseluruhan kebutuhan warga.

Masalah yang lebih kompleks lagi adalah kemacetan yang sering terjadi di Kota Depok. Kemacetan tidak lepas dari tanggung jawab kita semua sebagai warga. Namun, pemerintah Depok hendaknya memperhatikan masalah ini secara serius karena banyaknya penduduk Depok yang notabene mencari nafkah di Kota Jakarta dan sekitarnya mengeluhkan masalah kemacetan yang terjadi ketika mereka keluar dari rumahnya. Hal itu menyebabkan terlambat sampai pada tujuan yang mereka tuju.

Banyak kalangan yang menilik masalah kemacetan di Kota Depok diakibatkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang keluar masuk koa Depok. Kemudian tidak tertibnya para pengguna jasa angkutan umum yang sering berhenti di tengah jalan danmencari penumpang di tengah jalan. Dan hadirnya pusat perbelanjaan baru seperti ITC Depok yangmenyebabkan macet. Belum lagi Depok Town Square yang sebentar lagi akan rampung dibangun. Bisa dibayangkan kemacetan di Depok akan bertambah. Kiranya Pemkot Depok telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kemacetan tersebut.

Penutup
Kesimpulan

Setelah menyusun arya tulis ini saya dapat menyimpulkan sesungguhnya mempelajari sejarah daerah lokal lebih mengasyikan daripada mempelajari sejarah nasional dan asing, dikarenakan ruang lingkupnya lebih kecil dan mudah dipelajari.

Khususnya sejarah Kota Depok adalah membahasan yan sangat menarik darimulai jaman Cornelis Chastelein sampai dengan sekarang. Tak disangka Kota Depok yang dahulunya terletak di tengah hutan Belantara sekarang sudah menjadi belantara beton karena banyaknya gedung-gedung pencakar langit yang berdiri tegak di Kota Depok.

Selain mempelajari pertumbuhan Kota Depok secara teori lebih baik kita terjun langsung ke daerah Depok sendiri. Selain merasakan sensasi yang lebih asyik kita dapat mengenal lebih jauh Kota Depok.

Saran
Sebagai warga Depok hendaknya kita bersatu membangun kota ini menjadi kota yang aman, nyaman, tertib, santun dan bersih. Kita semua wajib bergotong royong menjaga aset-aset budaya peninggalan Cornelis Chastelein.

Daftar Pustaka
Republikaonline.com
WWW.Gunadharma.com
Situs resmi pemerintah Kota Depok
Wawancara dengan beberapa narasumber


Sumber:
Makalah disampaikan pada “Lomba dan Diskusi Penulisan Sejarah Lokal” yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

http://wisatadanbudaya.blogspot.com
Continue reading >>

Juru Kunci Makam Keramat Godog (Suatu Kajian tentang Pranata Sosial)

1. Pendahuluan
Sufwandi Mangkudilaga berpendapat, di Indonesia agama dan kebudayaan merupakan unsur yang saling mengisi. Agama, kini memberi landasan bagi suatu kebuda-yaan untuk berkembang. Se-mentara itu, sisa-sisa religi (ke-budayaan agama) sebagai suatu unsur universal dari kebudayaan keberadaannya banyak dipenga-ruhi agama yang ada. Cukup banyak contoh fenomena sepert itu yang dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah kepercayaan akan terkabulnya suatu keingi-nan bila berziarah ke makam seseorang yang dianggap suci atau keramat oleh masyarakat pendukungnya.

Sampai saat ini, tradisi ziarah ke makam-makam keramat masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Di Jawa Barat sendiri, cukup banyak ma-kam yang dianggap keramat. Tentu saja, derajat pengakuan terhadap makam keramat itu berlainan antara satu dan lain-nya. Ada makam yang hanya dipandang keramat oleh komu-nitas setempat, ada pula yang mendapat pengakuan lebih luas lagi. Artinya, tidak hanya masya-rakat setempat yang mengke-ramatkan makam tersebut, me-lainkan juga masyarakat di luar itu.

Salah satu makam keramat yang sering didatangi peziarah dari berbagai daerah adalah Makam keramat Godog, di De-sa Lebak Agung, Kecamatan Karang Pawitan, Kabupaten Ga-rut. Tidak kurang dari 100 pezia-rah datang ke tempat tersebut setiap hari. Apalagi pada hari dan bulan yang dipandang baik untuk berziarah, jumlah peziarah yang datang ke sana akan ber-lipat ganda. Bulan Maulud misal-nya, merupakan waktu yang paling istimewa untuk melaku-kan ziarah ke makam-makam keramat. Pada saat itu, komplek Makam Keramat Godog pun tampak begitu ramai, baik siang maupun malam.

Kedatangan mereka biasa-nya akan disambut dan dilayani oleh penduduk setempat yang dikenal sebagai juru kunci. Jum-lah juru kunci di tempat tersebut tidak hanya satu tetapi banyak. Mereka memasang papan nama sebagai juru kunci di depan ru-mahnya masing-masing. Untuk memperluas relasi, mereka juga membuat dan menyebarkan kar-tu nama. Jika diperlukan, mere-ka dapat dihubungi melalui tele-pon rumah dan telepon geng-gam atau handphone. Kebera-daan juru kunci Makam Keramat Godog memang cukup menarik untuk dikaji lebih jauh, khusus-nya dikaitkan dengan pranata sosial.

2. Pengertian Juru Kunci dan Pranata Sosial
Sebelum lebih jauh mengu-raikan tentang juru kunci Makam Keramat Godog, akan dijelaskan mengenai konsep juru kunci dan pranata sosial. Definisi juru kun-ci menurut Kamus Bahasa Sun-da karangan R. Satjadibrata adalah tukang nyangking kunci atau orang yang memegang kunci. Dalam kamus Umum Basa Sunda dari Lembaga Basa dan Sastra Sunda, definisi juru kunci adalah nu dipercaya nye-kel konci atau yang dipercaya memegang kunci. Dalam kamus tersebut juga disinggung Istilah lain untuk menunjuk hal yang sebetulnya sama dengan juru kunci makam keramat, yakni kuncen atau pakuncen. Di sana dijelaskan, kuncen atau pakun-cen adalah purah tunggu kubu-ran karamat, jsb; nu nyekel kon-ci lawang; sarta purah ngajajap-keun anu jarah ka dinya atau pekerjaan menunggu makam keramat, dan lain-lain; yang me-megang kunci pintu; dan peker-jaan mengantar peziarah ke tempat tersebut.

Istilah pranata sosial merupakan salah satu terjemahan dari social institution. Masih ada istilah lain yang menunjuk pada hal yang sama, yakni lembaga kemasyarakatan, lembaga sosial, atau bangunan sosial. Apa definisi dari pranata sosial ? Cukup banyak yang memberikan penjelasan mengenai hal itu, dan beberapa di antaranya akan dikemukakan di sini.

Koentjaraningrat mendefini-sikan pranata sosial sebagai suatu sistim tata kelakuan dan hubungan yang berpusat ke-pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat (Soekamto, 1982: 191).Sementara itu dalam buku yang sama, Soerjono Soe-kanto menjelaskan, pranata sosial atau lembaga kemasyara-katan adalah himpunan daripada norma-norma dari segala ting-katan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam ke-hidupan masyarakat. Dalam suatu seminar, DR. Ganjar Kur-nia pernah menyinggung tentang pranata sosial yang tak lain merupakan sebuah aturan main.

Dalam buku Tanya Jawab Pengantar Antropologi, terdapat penjelasan mengenai pranata sosial dari R.Firth dan J.O. Hertzler. Menurut pandangan R.Rirth, semua kebudayaan itu tersusun dalam pranata-pranata sosial yang merupakan wujud dari respons-respons yang di-formulasikan dan disistematis-kan daripada segala kebutuhan hidup. Secara individu, pranata sosial terlihat dalam bentuk ke-biasaan, tradisi, dan peraturan. Pendapat tersebut dikemukakan oleh J.Ohertzler.

Pranata sosial dapat terjadi bila memenuhi beberapa per-syaratan seperti berikut (Teguh Meinanda, 1981 : 25) :

Apabila merupakan suatu tata kelakuan yang baku, berupa norma-nor-ma, adat-istiadat;

Kelompok manusia yang melaksanakan norma-norma itu saling berhubungan me-nurut sistem norma-norma tersebut.;

Merupakan pusat aktivitas yang bertujuan untuk memenuhi kompleks – kompleks kebutuhan yang telah disadari oleh kelompok bersangkutan;

Menurut pendapat Summer (Soekanto, 1983: 195), lemba-ga-lembaga tumbuh dari kebia-saan yang menjadi tata kela-kuan (mores) dan bertambah matang apabila diadakan pen-jabaran terhadap aturan dan perbuatan. Selanjutnya, R.M MacIver dan CH Page dalam bukunya berjudul Society mem-bedakan antara lembaga de-ngan asosiasi. Lembaga meru-pakan bentuk-bentuk atau kon-disi-kondisi prosedur yang ma-pan, yang menjadi karakteristik bagi aktivitas kelompok. Kelom-pok yang melaksanakan pato-kan - patokan tersebut disebut asosiasi.

Jenis pranata sosial yang terdapat dalam kehidupan ma-syarakat begitu beragam. Pra-nata tersebut sedikitnya muncul untuk memenuhi kebutuhan, kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, bahkan kebutuhan tersier manusia. Beberapa con-toh jenis pranata sosial adalah sebagai berikut.:

Pranata sosial yang ber-tujuan untuk memenuhi ke-butuhan berketurunan, seperti perkawinan dan sistem kekerabatan.

Pranata sosial yang ber-tujuan untuk mencari mata pencaharian hidup, seperti pertanian, berdagang.

Pranata sosial yang ber-tujuan untuk memenuhi ke-butuhan pendidikan, seperti sekolah.

Pranata sosial yang bertu-juan untuk memenuhi kebu-tuhan manusia akan rekre-asi, seperti kesenian, drama.

Pranata sosial yang ber-tujuan untuk menghubung-kan manusia dengan ke-kuatan supranatural atau Tuhannya, seperti upacara dan doa-doa.

Pranata sosial yang ber-tujuan untuk memenuhi ke-butuhan jasmani seperti kedokteran, kecantikan, dan olah raga.

3. Peranan Juru Kunci dalam Kehidupan Masyarakat
Sebelum menguraikan pera-nan juru kunci dalam kehidupan masyarakat, akan dijelaskan se-cara singkat asal-usul juru kunci Makam Keramat Godog. Riwa-yatnya berkaitan dengan per-jalanan syiar Islam Prabu Kian-santang atau Sunan Rohmat Suci bersama para sahabatnya di wilayah Garut. Ketika dia diharuskan bertafakur dan men-dekatkan diri kepada Allah SWT di Gunung Suci-Garut, ada pen-duduk setempat yang ingin me-meluk agama Islam. Dia ber-nama Pager Jaya, dan dialah orang pertama yang di Islamkan oleh Sunan Rohmat Suci di wilayah itu.

Pager Jaya, kemudian men-jadi salah satu dari delapan sahabat Sunan Rohmat Suci. Pada saat itu, dia mendapat tu-gas untuk melayani para tamu yang akan bertemu dengan Sunan Rohmat Suci. Tanpa se-pengetahuan dia, tamu tidak akan diterima oleh Sunan Roh-mat Suci. Tepatnya, dia menjadi juru kunci bagi Sunan Rohmat Suci. Lalu, bagaimana peranan juru kunci dalam kehidupan ma-syarakat saat ini ? Berikut ini akan diuraikan sejumlah akti-vitas juru kunci.

Memelihara Mitologi tentang Makam Keramat Godog
Para juru kunci memelihara sejumlah mitologi tentang mak-am keramat Godog. Ada dua cara yang dilakukan oleh mereka, yakni dengan membukukannya, seperti tentang asal-usul makam keramat Godog; dan menceritakannya secara lang-sung kepada peziarah. Bebe-rapa mitologi yang berhubu-ngan dengan makam keramat Godog adalah seperti tertera pada uraian berikut :

a) Asal-usul Makam Keramat Godog
Makam keramat Godog adalah sebutan lain untuk makam Sunan Rohmat Suci. Siapakah sebenarnya Sunan Rohmat Suci itu? Sunan Rohmat Suci tidak lain adalah Prabu Kiansantang, salah satu putra Prabu Siliwangi dari istri yang bernama Dewi Kumalawangi. Prabu Kiansan-tang lahir di Pajajaran. Dia tum-buh menjadi anak yang gagah dan sakti. Tidak seorang pun di seluruh pulau Jawa yang dapat menandingi kesaktian dan kega-gahannya sampai dia dewasa. Karena penasaran, dia memo-hon kepada ayahnya agar di-carikan lawan yang seimbang untuknya. Hasilnya tetap sama, jangankan untuk mengalahkan-nya, melukainya pun tidak mam-pu, sekalipun telah mengguna-kan senjata tajam.

Mendapati kenyataan ter-sebut, ayah Prabu Kiansantang memanggil dan mengumpulkan seluruh ahli nujum di Keraton Pajajaran. Mereka diminta me-nunjukkan orang yang dapat menandingi anaknya. Tidak satu pun dari mereka yang dapat memenuhi keinginan tersebut. Sementara mereka sedang bi-ngung, tiba-tiba datanglah se-orang kakek. Dia memberi tahu orang yang diinginkan oleh ayah Prabu Kiansantang, yakni Sa-yidina Ali yang berada di Mekah. Sebetulnya, pada waktu itu, orang tersebut telah wafat. Jadi, pertemuan nanti terjadi secara gaib atas kehendak dan kuasa Allah SWT.

Prabu Kiansantang dapat menemui orang tersebut de-ngan beberapa syarat. Perta-ma, dia harus bersemedi dulu di Ujung Kulon. Kedua, dia harus mengganti namanya menjadi Galantrang Setra (Galantrang = berani, dan setra = suci). Diki-sahkan Prabu Kian-santang atau Galantrang Setra telah melak-sanakan kedua syarat itu, ke-mudian dia pergi ke Mekah. Sesampainya di sana, dia ber-temu dengan seorang laki-laki yang tidak lain adalah Sayidina Ali. Dia menanyakan orang yang dicarinya kepada laki-laki itu. Orang tersebut pun bersedia mengantar dia menemui Sayidina Ali.

Sebelum pergi, laki-laki itu menancapkan tongkatnya ke tanah tanpa sepengetahuan Ga-lantrang Setra. Berangkatlah kedua orang tersebut menuju orang yang dicari Galantrang Setra. Baru berjalan beberapa puluh meter, lelaki itu meminta Galantrang Setra kembali untuk mengambil tongkatnya. Semula dia menolak, namun laki-laki itu tidak akan mempertemukannya dengan Sayidina Ali. Dengan terpaksa dia kembali ke tempat semula untuk mengambil tong-kat yang ketinggalan.

Awalnya, Galantrang Setra mencabut tongkat tersebut dengan sebelah tangannya, tetapi tidak berhasil. Dicoba lagi dengan kedua tangannya, tongkat tetap tidak bergerak. Akhirnya, dia harus mengerahkan seluruh ke-mampuan dan kesaktiannya. Itu pun tidak berhasil. Justru kakinya ikut amblas ke dalam tanah hingga tubuhnya pun me-ngeluarkan darah.

Laki-laki itu menyusul Ga-lantrang Setra karena dia tahu apa yang akan terjadi. Dia lang-sung mencabut tongkatnya sam-bil membaca basmalah dan dua kalimat syahadat. Bersamaan dengan itu, darah dan rasa sakit pada tubuh Galantrang Setra pun hilang. Tentu saja Galan-trang Setra heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini semua terjadi karena kalimat yang diucapkan oleh laki-laki itu? Dia pun meminta kalimat tersebut agar dapat digunakan pada saat berhadapan dengan Sayidina Ali nanti. Laki-laki itu menolak karena Galantrang Se-tra belum masuk dan memeluk agama Islam.

Dikisahkan mereka berdua melanjutkan perjalanannya me-nuju Mekah. Sesampainya di tempat tersebut, seseorang me-nyapa laki-laki yang menyertai Galantrang setra dengan sebu-tan Sayidina Ali. Tentu saja Ga-lantrang Setra terkejut, ternyata orang yang dicari olehnya. Se-dang bersamanya saat itu. Karena merasa malu dan takut, dia memutuskan untuk kembali ke Jawa. Sayang sekali, dia tidak bisa pulang karena ke-saktiannya telah hilang. Dia malah hidup terlunta-lunta tanpa arah dan tujuan. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke Mekah menemui Sayidina Ali dan ma-suk Islam, kemudian mendalaminya.

Selama memuntut ilmu di Mekah, dia sempat pulang men-jenguk ayah dan saudara-sau-daranya di Jawa. Kesempatan itu juga digunakannya untuk mengajak ayahnya masuk Islam. Ajakan tersebut ditolak ayahnya. Pada saat itu, dia memang be-lum mampu menyebarkan aga-ma Islam secara sempurna ka-rena pengetahuannya masih terbatas. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk kembali lagi ke Mekah. Di sana, secara khu-sus dia mempelajari agama Islam selama tujuh tahun. Sete-lah merasa cukup ilmunya, dia kembali ke Jawa ditemani sau-dagar Arab yang hendak ber-niaga sambil membantu menye-barkan agama Islam.

Dia kembali ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Di lingkungan masyarakat Pajaja-ran, Islam diterima dengan ta-ngan terbuka. Berbeda halnya dengan di lingkungan Keraton Pajajaran. Niat untuk menyebar-kan Islam sudah diketahui ayahnya melalui seorang abdi dalem yang kebetulan bertemu de-ngannya. Daripada harus mengikuti ajakan anaknya, Prabu Sili-wangi beserta pengiringnya lebih memilih meninggalkan ke-raton. Sebelum pergi, dia meng-ubah keraton menjadi hutan belantara agar keberadaannya tidak diketahui anaknya.

Ketika Galantrang Setra kembali ke Pajajaran, dia tidak menemukan keraton melainkan hanya hutan belantara. Tentu saja dia kaget dan bingung. Perlahan-lahan dia sadar, ini adalah perbuatan ayahnya sendiri. Kemudian, dia berdoa memohon dipertemukan dengan ayahnya. Doanya terkabul. Ayah dan para pengikutnya keluar dari hutan menemui Galantrang Setra. Dia menyambut kedatangan mereka serta mengajaknya kembalii ke keraton. Pada saat itu, dia juga mendesak ayahnya agar me-meluk agama Islam. Ayahnya tidak menghiraukan ajakannya, dia justru bertanya siapa yang pantas tinggal di hutan. Menurut Galantrang Setra, yang pantas ting-gal di hutan adalah harimau.

Mendapat jawaban tersebut, Prabu siliwangi beserta pengi-kutnya berubah menjadi hari-mau. Karena mengetahui mere-ka adalah harimau jadi-jadian, Galantrang Setra tetap mende-sak mereka agar masuk Islam. Mereka tetap menolak bahkan kemudian berlari meninggalkan Galantrang Setra dan Keraton Pajajaran. Meski dikejar dan didesak, mereka tetap menolak ajakan Galantrang Setra. Mere-ka lari menuju salah satu pantai di Garut Selatan. Sementara itu, Galantrang Setra menghadang-nya di Laut Kidul. Karena me-reka berkeras menolak ajakan untuk masuk Islam, terpaksa dia menutup jalan lari mereka. Akhirnya, mereka masuk ke sebuah gua (sekarang disebut Gua Sancang Pameungpeuk). Galantrang Setra gagal meng-Islamkan ayahnya sendiri.

Dikisahkan Galantrang Setra dalam perjalanan pulang ke Pajajaran. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang sengaja mencarinya karena ingin masuk Islam. Tentu saja dia senang dan bersedia mengIslamkannya termasuk juga mengkhitannya. Mungkin karena terlalu gembira, dia tergesa-gesa mengkhitan orang tersebut hingga hasafah-nya putus. Laki-laki itu akhirnya meninggal dan dimakamkan di tempat itu pula. Tempat itu di-namakan Islam Nunggal dan sekarang berubah menjadi Sa-lam Nunggal.

Sesampainya di Pajajaran, Galantrang Setra membangun kembali keratonnya tanpa meng-ubah wujud hutan belantara yang diciptakan ayahnya. Hutan itu kini menjadi Kebun Raya Bogor. Dia terus menyebarkan agama Islam ke berbagai pelosok daerah, bahkan hingga ke Galuh Pakuan dibantu oleh sau-dagar Arab sambil berniaga. Laki-laki yang masuk Islam di-khitan sendiri oleh dia.

Dikisahkan Galantrang Setra diangkat menjadi Raja Pajajaran menggantikan Prabu Munding Kawati (Prabu Ana Pakem I). Raja ini tidak lama bertahta ka-rena mendapat ilham untuk uzlah, yakni pindah dari tempat ramai ke tempat sepi. Tujuan uzlah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada tiga tem-pat yang dipilih untk uzlah, yakni Gunung Ceremai, Gunung Ta-sikmalaya, dan Gunung Suci Garut.

Ketika uzlah dia harus mem-bawa peti berisi tanah pusaka atau tanah yang berasal dari mekah. Keberadaan peti itu akan menjadi petunjuk tempat tafakur nanti. Jika peti itu godeg atau berubah di suatu tempat, itu pertanda dia harus tafakur di sana dan mengganti namanya menjadi Sunan Rohmat Suci. Sebelum uzlah, dia menyerah-kan tahta kerajaan kepada Pra-bu Panatayuda, putra tunggal Prabu Munding Kawati.

Perjalanan uzlah diawali ke Gunung Ceremai. Di tempat itu tidak terjadi apa-apa, meski peti telah diletakkan di atas tanah. Hal serupa juga terjadi ketika dia tiba di tempat kedua, yakni di Gunung Tasikmalaya. Baru di tempat ketiga, yakni di Gunung Suci Garut, peti berubah atau godeg. Itu pertanda dia harus tafakur untuk mendekatkan diri kepada Allah di tempat itu, serta mengganti namanya menjadi Sunan Rohmat Suci.

Masa tafakur Sunan Rohmat Suci di Gunug Suci Garut ber-langsung selama 19 tahun. Se-lama bertafakur, dia dibantu dan dilayani 8 (delapan) sahabatnya yang terdiri atas : Santowan Marjaya Suci, Sembah Dalem Seureupan Agung, Sembah Da-lem Holipah Agung, Sembah Dalem Serepan Suci, Sembah Dalem Pager Jaya, Sembah Dalem Kuwu Kandang Sakti, Sembah Dalem Syeh Dora, dan Sembah Dalem Kandang He-rang (perempuan).

Sunan Rohmat Suci dan ke-delapan orang terdekatnya wafat dan dimakamkan di lokasi yang sama, yakni di Gunung Suci. Dari kedelapan sahabat tadi, satu di antaranya, yakni Sembah Dalem Pager Jaya, merupakan penduduk asli Gunung Suci. Dia di Islamkan dan dikhitan oleh Sunan Rohmat Suci sendiri. Dia merupakan orang pertama yang di Islamkan di daerah tersebut. Pada saat itu, dia bertugas me-layani tamu yang akan bertemu de-ngan Sunan Rohmat Suci. Tanpa sepengetahuan Sembah Dalem Pager Jaya, tamu tidak akan diterima oleh Sunan Roh-mat Suci. Tepatnya, dia menjadi juru kunci.

b) Cikawedukan
Kisah Cikawedukan erat kaitannya dengan perjalanan Sunan Rohmat Suci dalam me-nyebarkan agama Islam di wila-yah Godog. Dikisahkan pada saat itu, ada penduduk asli Go-dog bernama Pager Jaya ingin masuk Islam. Dia termasuk orang yang sangat sakti karena memiliki ilmu kawedukan atau kekebalan dan kekuatan yang tinggi. Dia kebal dari segala sen- jata tajam, seperti golok dan pisau.

Ketika dia akan masuk Islam salah satu syaratnya adalah ha-rus disunat. Sunan Rohmat Suci mengalami kesulitan ketika akan mengkhitannya. Jangankan di-sunat, rambutnya saja sangat sulit untuk ditembus benda tajam. Mendapati kenyataan tersebut, Pager Jaya hanya bisa pasrah. Kemudian datanglah petunjuk gaib atau wangsit yang meminta agar Pager Jaya ber-semedi dan mandi di suatu su-ngai. Ternyata setelah mandi di sungai tersebut, ilmu kawedukan atau kesaktiannya hilang sehing-ga dia bisa disunat. Dengan de-mikian, sahlah dia sebagai pe-meluk Islam. Sungai yang men-jadi tempat dia bersemedi dan mandi tadi kemudian diberi na-ma Cikawedukan.

c) Cerita – cerita Gaib
Wilayah makam keramat Godog masih terbilang angker. Berbagai peristiwa aneh dan gaib juga kerap terjadi di sana. Ada beberapa kisah di antara-nya yang cukup dikenal masya-rakat, yakni:

Kisah pohon yang tumbang dan peristiwa kebakaran. Konon pada waktu itu ada sebuah pohon tumbang di kawasan makam keramat Godog. Sebagian masyara-kat memanfaatkan kayunya untuk kayu bakar, tanpa minta izin dulu kepada juru kunci. Ternyata hal itu mem- bawa petaka bagi mereka. Musibah kebakaran menim-pa rumah mereka, yang menjadikan potongan kayu dari pohon tersebut menjadi kayu bakar. Peristiwa terse-but terjadi pada siang hari. Anehnya rumah warga ma-syarakat lainnya tidak ikut terbakar, padahal banyak di antaranya yang berdempe-tan dengan rumah-rumah yang terbakar. Sejak saat itu, warga masyarakat tidak berani mengambil kayu bakar dari kawasan makam keramat Godog tanpa sepengetahuan juru kunci.

Kisah pohon yang tumbang di seputar makam keramat Godog. Pohon-pohon besar memang tumbuh subur di tem-pat tersebut. Namun yang menarik, bangunan-bangunan yang ada dt tempat tersebut tidak pernah ada yang tertimpa pohon. Konon biasanya ter-jadi peristiwa aneh di seputar tumbangnya pohon di sekitar bangunan tersebut. Mereka kerap mendengar gemuruh suara di dekat pohon. Setelah mendengar suara tersebut, pohon tadi posisinya sudah terangkat akarnya. Jadi, ma-syarakat dapat dengan mu-dah memotong kayunya tan-pa merusak bangunan yang ada di sekitarnya.

Kisah lainnya berupa pene-muan fenomena seperti ca-haya, binatang, atau makhluk yang tiba-tiba menghilang; Kisah tentang orang-orang yang kesurupan; dan kejadian-keja-dian aneh lainnya akibat pe-langgaran aturan di tempat itu.

Menjaga Kawasan Makam Ke-ramat Godog
Kawasan makam keramat

Godog yang dipertahankan dan dipelihara keberadaannya oleh juru kunci keturunan Pager Jaya meliputi area makam keramat Godog berikut peninggalan Su-nan Rohmat Suci dan tempat-tempat keramat lainnya yang berada di luar area makam kera-mat. Meskipun berada di luar, latar belakang tempat keramat itu masih di seputar kisah ten-tang Sunan Rohmat Suci.

Area makam keramat Go-dog menempati lahan yang luas-nya lebih kurang 3 hektar. Lahan tersebut dikelilingi pagar kawat sebagai pembatas dengan lahan milik warga masyarakat lainnya. Pemilik lahan tersebut adalah juru kunci keturunan Sembah Dalem Pager Jaya.

Di dalam kawasan tersebut terdapat sejumlah bangunan yang terdiri atas makam dan bangunan pendukung lainnya. Seperti telah disebutkan sebelumnya, di sana ada 9 makam keramat yang terdiri atas makam Sunan Rohmat Suci dan 8 sahabatnya. Dari kedelapan makam sahabat Sunan Rohmat Suci, empat di antaranya bera-da dalam satu bangunan de-ngan makam Sunan Rohmat Suci, yakni makam Santowaan Marjaya Suci, Sembah Dalem Halifah Agung, Sembah Dalem Seureupeun Agung, dan Sem-bah Dalem Serepan Suci. Se-mentara itu empat makam lagi tersebar di beberapa tempat dalam kawasan tersebut.

Bangunan pendukung lain-nya juga ada di dalam area ma-kam keramat Godog, seperti pos pendaftaran; paseban, yakni bangunan panggung untuk tem-pat beristirahat para peziarah; kandaga sebuah bangunan tem- pat menyimpan beragam benda peninggalan Sunan Rohmat Su-ci; juga mesjid. Selain itu, bebe-rapa bangunan tampak masih dalam proses penyelesaian.

Di antara sejumlah bangu-nan tadi, tumbuh subur pohon-pohon yang besar dan tinggi. Itu terlihat mulai dari pintu gerbang memasuki kawasan makam hingga puncak, yang menjadi tempat makam Sunan Rohmat Suci. Pohon yang mengapit anak tangga menuju makam keramat di antaranya pohon Bunut, Beringin, Kimunding, Han-tap, dan Kijeruk. Diameter ba-tang pohon-pohon tersebut di-perkirakan lebih dari satu meter. Banyaknya pohon tua di tempat tersebut dimungkinkan karena ada larangan untuk menebang pohon tanpa seizin juru kunci. Masyarakat sekitar pun tidak ada yang berani melanggarnya karena takut terjadi sesuatu yang merugikan mereka. Kalaupun di sana terlihat tanaman palawija seperti singkong, itu adalah milik warga masyarakat yang kurang mampu. Juru kunci memang mengizinkan mereka yang kurang mampu mengga-rap lahan kosong di kawasan makam itu.

Tempat yang harus dijaga dan dipelihara oleh juru kunci tidak hanya kawasan makam keramat. Di luar batas pagar kawat, masih ada tiga tempat keramat lainnya, yakni Cikahuri-pan, Cikajayaan, dan Cikawedu-kan. Lokasi tempat keramat tersebut berada di lembah gu-nung, yang berjarak sekitar 300 meter dari makam keramat. Setelah melewati akar-akar po-hon yang besar, menuruni anak tangga, dan melewati sawah sampailah ke tiga tempat kera-mat tadi.

Tempat pertama yang akan dilalui adalah Cikahuripan, yakni mata air yang mengalirkan air ke sawah-sawah di sekitarnya. Ko-non air tersebut berasa agak manis dan terlihat bening. Ba-nyak juga peziarah yang minum air tersebut tanpa harus dimasak dahulu. Tempat keramat berikut-nya yang akan dilewati adalah Cikajayaan, yakni aliran air me-lalui dua pancuran dan dilin-dungi secara sederhana dengan bambu dan atap seng. Pada malam hari, banyak peziarah yang mandi di tempat tersebut dengan berbagai tujuan, seperti untuk mengobati berbagai pe-nyakit. Umumnya, mereka da-tang ke tempat itu setelah men-dapat izin atau petunjuk dari juru kunci. Tempat keramat yang terakhir adalah Cikawedukan. Peziarah yang mandi di Cika-wedukan biasanya laki-laki.

Telah disebutkan sebelum-nya, di kandaga disimpan se-jumlah benda peninggalan Su-nan Rohmat Suci. Benda-benda itu terdiri atas alat-alat untuk bertani, memancing, peralatan rumah tangga, lencana, dan lain-lain. Pada setiap Maulud, juru kunci mengeluarkan benda-benda tersebut dari tempatnya kemudian membersihkannya. Aktivitas tadi dilakukan dalam satu prosesi upacara yang cu-kup semarak, yakni Upacara Ngalungsur Pusaka Makam Keramat Godog. Tujuan upacara tadi adalah untuk mensosiali-sasikan nilai-nilai perjuangan Sunan Rohmat Suci dalam me-nyebarkan agama Islam kepada masyarakat. Pelaksana upacara Ngalungsur Pusaka Makam Keramat Godog adalah juru kun-ci keturunan Sembah Dalem Pager Jaya. Sementara itu, pe-serta yang terlibat dalam upa-cara berasal dari berbagai ele-men masyarakat.

Melayani Peziarah ke Makam Keramat Godog
Menziarahi makam keramat, apalagi disertai tujuan-tujuan ter- tentu biasanya ada aturannya, baik berupa tatacara berziarah maupun pantangan – panta-ngannya.Yang mengetahui atu-ran tersebut tentu saja juru kunci. Oleh karena itu, umum-nya peziarah akan mendatangi juru kunci sebelum mela-kukan ziarah ke makam tersebut. Pe-tunjuk ke arah itu bisa diketahui peziarah ketika akan mengguna-kan kendaraan ojeg ke makam Godog. Pengemudi ojeg biasa-nya akan memberi tahu nama-nama juru kunci yang bisa didatangi para peziarah baru. Kalaupun tidak mendapat infor-masi dari tukang ojeg, papan nama juru kunci bisa dengan mudah ditemukan di lokasi makam keramat Godog.

Belakangan ini, juru kunci mulai merasa khawatir karena peziarah ku-rang mengindahkan aturan tersebut. Maksudnya, ke-cenderungan peziarah datang ke makam tanpa minta izin ke-pada juru kunci sudah mulai tampak. Umumnya, itu dilakukan oleh peziarah yang datang se-cara berombongan disertai pe-mandunya. Meskipun demikian, juru kunci tidak dapat berbuat banyak karena cukup sulit untuk mengontrolnya. Mereka hanya bisa berharap agar kecende-rungan seperti itu tidak semakin meluas.

Mereka yang menggunakan jasa juru kunci pada saat ber-ziarah ke makam keramat, tentu saja akan dilayani dengan baik. Pelayanan juru kunci terhadap peziarah diawali dengan mena-nyakan tujuannya. Jika tujuan-nya baik, pasti akan diizinkan menziarahi makam keramat. Se-baliknya jika tujuannya dipan-dang kurang tepat, misalnya mencari nomor jitu untuk berjudi, dengan tegas akan ditolak oleh juru kunci. Di antara peziarah ada juga yang datang dengan tujuan khusus, misalnya me-ngupayakan kesembuhan me-lalui pengobatan alternatif, ingin membuka usaha baru, atau mencari jodoh. Untuk tujuan seperti itu, juru kunci biasanya memberikan persyaratan terten-tu, entah itu menyediakan per-lengkapan khusus sesuai de-ngan tujuan peziarah atau mela-kukan ritual khusus. Setelah itu, juru kinci biasanya akan meng-antar peziarah ke makam.

Untuk jasanya melayani pe-ziarah, juru kunci biasanya akan mendapat imbalan. Bentuk dan besaran imbalan tersebut tidak ditentukan, bergantung pada keikhlasan peziarah sendiri. Ada kalanya mereka juga tidak mendapat imbalan dari peziarah, seperti yang pernah dialami oleh salah seorang juru kunci. Dia dengan ikhlas menampung peziarah yang tinggal cukup lama di rumahnya tanpa membawa bekal yang cukup. Mereka akan tetap melayaninya asalkan orang tersebut mengatakan kondisi yang sebenarnya. Bagai-mana pun juga melayani peziarah sudah merupakan tanggung jawab mereka.

Para peziarah yang datang dengan tujuan khusus akan dibimbing penuh oleh seorang juru kunci. Jika dengan bim-bingannya tidak membuahkan hasil peziarah itu biasanya akan mencoba beralih ke juru kunci lain. Satu hal yang dianggap bi-asa, jika hari ini peziarah berada di tangan juru kunci tertentu, esok lusa dia bisa pindah ke juru kunci lainnya. Bagi mereka, itu hanya masalah cocok dan tidak cocok saja. Sebaliknya, jika dengan bimbingan juru kunci itu berhasil mewujudkan cita-citanya, hubungan mereka akan semakin dekat layaknya hubu-ngan persaudaraan. Keterikatan peziarah terhadap juru kunci tersebut akan semakin erat dan kuat.

Peziarah seperti itu biasa-nya tidak datang sekali melain-kan berkali-kali, bahkan keda-tangannya bisa berhari-hari la-manya. Oleh karena itu, dia me-merlukan tempat untuk mengi-nap. Untuk keperluan tersebut, juru kunci juga menyediakan tempat menginap bagi peziarah. Sebaliknya peziarah pun akan bermurah hati dalam memberi imbalan kepada juru kunci yang menjadi pegangannya. Karena kedekatan hubungan tersebut, juru kunci pun tidak merasa sungkan lagi kepada peziarah. Misalnya, ketika organisasi juru kunci akan mengadakan ke-giatan seperti upacara atau me-rayakan HUT IKCI, juru kunci akan menawarkan kepada pe-ziarah kalau-kalau dia akan menyumbang sesuatu.

Kaderisasi Juru Kunci
Saat ini, ada 21 orang ke-turunan Sembah Dalem Pager Jaya yang menjadi juru kunci Makam Keramat Godog. Menu-rut mereka, ini merupakan gene-rasi ketujuh, yang dihitung ber-dasarkan pergantian sesepuh atau pemimpin juru kunci. Yang menjadi sesepuh juru kunci se-karang mendapat estafet ke-pemimpinan pada 1964. Dalam komunitas juru kunci, seseorang yang dijadikan sesepuh biasa-nya akan memimpin seluruh ritual upacara yang berhubu-ngan dengan makam keramat Godog, misalnya ketika ber-langsung upacara Ngalungsur Pusaka Makam Keramat Godog.

Dulu, mereka disiapkan orang tuanya untuk menjadi juru kunci. Sekarang, mereka pun melakukan hal yang sama. Se-tiap juru kunci biasanya akan menyiapkan anak laki-lakinya yang kelak akan menggantikan kedudukannya sebagai juru kunci. Ini dilakukan sebagai wu-jud tanggung jawab terhadap leluhurnya dan peziarah itu sen-diri. Wasiat leluhur juru kunci adalah untuk selalu menjaga makam keramat Godog sampai kapan pun. Sementara itu tang-gung jawab kepada peziarah adalah menjaga agar peziarah senantiasa dapat dilayani oleh para juru kunci sampai kapan pun.

Sejak awal para juru kunci sudah dapat melihat anak laki-lakinya yang berbakat menjadi juru kunci. Anak itu biasanya diajak serta oleh ayahnya ketika sedang bertugas sebagai juru kunci. Untuk memantapkan ke-mampuannya, dia akan dima-sukkan ke pesantren Anur yang ada di Kampung Godog. Di sana dia akan mendapat pendidikan rohani, bertawasul, dan sejarah mengenai leluhurnya.

Kader juru kunci yang ada saat ini sekitar 19 orang. Mes-kipun masih berstatus sebagai calon atau kader, mereka sudah mulai terlibat dalam orga-nisasi Ikatan Juru Kunci Makam Ke-ramat Godog. Sedikitnya mere-ka sudah tercatat sebagai ang-gota dalam organisasi. Ada juga yang sudah mulai mendapat tugas khusus, seperti bertugas di bagian pendaftaran dan lain-lain. Setelah berusia 25 tahun, mereka bisa melaksanakan tu-gas sebagai juru kunci jika ayah-nya sedang sakit atau berha-langan. Setelah orang tuanya meninggal baru dia dapat sepe-nuhnya menjadi juru kunci.

Melakukan Aktivitas Sosial
Juru kunci Makam Keramat Godog memiliki kepedulian ke-pada warga kurang mampu yang ada di lingkungan Kam-pung Godog. Kepedulian terse-but diekspresikan ke dalam se-jumlah aktivitas sosial, di antara-nya mengizinkan warga kurang mampu untuk menggarap lahan kosong di kawasan makam ke-ramat Godog, menyantuni para jompo, memberi bantuan dana pendidikan untuk anak yatim piatu, dan mengadakan khitanan massal.

Teknis pelaksanaan aktivitas sosial tadi tidak bersifat individu, melainkan diakomodasikan da-lam organisasi Ikatan Juru Kunci Makam Keramat Godog. Pengu-rus organisasi memang sengaja membuat program bernuansa sosial, dengan alokasi dana di-ambil dari kas organisasi. Ada beberapa sumber dana untuk mengisi kas tersebut, yakni dari pendaftaran, sumbangan para peziarah, dan dari para juru kun-ci sendiri. Mereka secara khu-sus menyisihkan pendapatannya untuk dimasukkan ke dalam kas organisasi. Besarannya dise-suaikan dengan kemampuan masing-masing.

Aktivitas sosial tadi ada yang dilaksanakan bersamaan dengan HUT organisasi, seperti khitanan massal; bersamaan de-ngan perayaan hari besar Islam, seperti menyantuni kaum jompo pada acara Nuzurul Quran; atau pada kesempatan - kesempatan khusus, seperti membebaskan SPP, memberi seragam, dan ke-perluan sekolah lainnya kepada anak yatim.

Penutup
Apakah juru kunci meru-pakan sebuah pranata sosial? Mengacu pada konsep-konsep yang dikemukakan tadi, juru kunci makam keramat Godog dapat dipastikan merupakan sebuah pranata sosial. Lebih khusus lagi, juru kunci dapat dikategorikan sebagai salah satu pranata religi, karena ber-tujuan untuk memenuhi kebutuhan ma-nusia untuk berhubungan de-ngan kekuatan supranatural. Dalam konteks ini, kekuatan supranatural itu meliputi roh suci dari orang-orang yang telah ber-jasa besar dalam menyebarkan agama Islam, yakni Sunan Rohmat Suci.

Beberapa hal yang dipersyaratkan untuk sebuah pranata sosial memang sudah terpenuhi.
Pertama, juru kunci merupakan suatu tata kelakuan yang baku berupa norma-norma, seperti yang tercermin dalam sejumlah aktivitas yang dilakukan oleh keturunan Sembah Dalem Pager Jaya yang sekarang menjadi juru kunci; Kedua, kelompok manusia, yang melaksanakan norma-norma itu saling berhu-bungan menurut sistem norma-norma tersebut. Kelompok ma-nusia yang ada dalam konteks masalah ini adalah mereka yang menjadi juru kunci dan peziarah; Ketiga, juru kunci merupakan pusat aktivitas yang bertujuan untuk memenuhi kompleks – kompleks kebutuhan yang telah disadari oleh mereka yang men-jadi juru kunci dan para pezi-arah; Sebagai sebuah pranata sosial, juru kunci juga memiliki perlengkapan atau alat berupa sebuah organisasi yang dina-makan Ikatan Juru Kunci (IKCI) Makam Keramat Godog, Garut.

Juru kunci Makam Keramat Godog, di Desa Lebak Agung, Kecamatan Karang Pawitan, Ka-bupaten Garut merupakan salah satu pranata sosial tradisional yang masih bisa bertahan hing-ga saat ini. Pranata tersebut terinternalisasikan baik secara informal dan nonformal di ling-kungan keturunan Sembah Da-lem Pager Jaya. Secara infor-mal, pranata juru kunci terin-ternalisasikan dalam lingkungan keluarga. Sementara itu secara nonformal, pranata tersebut te-rinternalisasikan melalui pendi-dikan para kader juru kunci di pesantren Anur dan di dalam organisasi Ikatan Juru Kunci Makam Keramat Godog (IKCI).

Terbentuknya sebuah aso-siasi yang bernama Ikatan Juru Kunci Makam Keramat Godog ini merupakan bukti, ternyata pranata tradisional ini mampu berkembang menjadi pranata yang lebih modern seperti la-yaknya sebuah organisasi. IKCI memiliki struktur organisasi beri-kut personilnya yang se-muanya merupakan juru kunci dan kader juru kunci keturunan Sembah Dalem Pager Jaya.

Perkembangan atau perlua-san juga terjadi pada cakupan pranata juru kunci Makam Ke-ramat Godog sendiri. Semula, pranata ini hanya terfokus pada masalah religi, yang berhubu-ngan dengan keberadaan ma-kam Sunan Rohmat Suci atau dikenal dengan Makam Keramat Godog. Dalam perkembangan selanjutnya, pranata juru kunci ini telah merambah aspek lain-nya, khususnya aspek yang bersifat sosial.

Singkatnya, saat ini pranata juru kunci bisa dikatakan memi-liki dua dimensi, yakni internal dan eksternal. Pranata juru kun-ci berdimensi internal dicirikan oleh norma-norma yang berhu-bungan dengan makam keramat Godog sendiri. Norma-norma itu terekspresikan dalam aktivitas memelihara mitologi tentang ma-kam keramat Godog; menjaga kawasan makam keramat Go-dog berikut peninggalan Sunan Rohmat Suci; melayani peziarah ke makam Keramat Godog; dan melakukan kaderisasi juru kunci.

Pranata juru kunci berdi-mensi eksternal dicirikan dengan norma-norma yang tidak lagi berhubungan dengan kebera-daan makam keramat godog. Beberapa norma yang termasuk ke dalam kategori ini terekspre-sikan dalam sejumlah aktivitas sosial, yakni menyantuni kaum jompo; membantu dana pendi-dikan untuk anak yatim piatu; mengadakan khitanan masal dan mengizinkan warga kurang mampu menggarap lahan ko-song di kawasan makam kera-mat tersebut.

Ada beberapa faktor pe-nyebab terjadinya perluasan cakupan dari pranata juru kunci. Pertama, karena pranata juru kunci dapat diinternalisasikan pada setiap generasi, baik se-cara informal maupun non-formal; Kedua, karena mereka yang menjadi juru kunci mampu mengelola organisasi dengan baik, termasuk di dalamnya mengelola dana yang bersum-ber dari para peziarah. Yang tidak kalah pentingnya adalah luasnya pengakuan terhadap ke-beradaan makam keramat, yang tidak hanya berasal dari dalam Kampung Godog melainkan juga dari daerah lain.

Juru Kunci dalam Dua Dimensi
Saat ini, pranata juru kunci bisa dikatakan memiliki dua di-mensi, yakni internal dan eks-ternal. Yang berdimensi internal adalah norma-norma yang ber-hubungan dengan makam kera-mat sendiri. Sementara itu yang berdi-mensi eksternal adalah norma-norma yang tidak berhu-bungan dengan makam keramat godog. Kedua hal tersebut akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikutnya.

a. Juru Kunci dalam Dimensi Internal
Pranata juru kunci berdi-mensi internal dicirikan oleh nor-ma-norma yang berhubungan dengan makam keramat Godog sendiri. Beberapa di antaranya yang akan diuraikan di sini ada-lah memelihara mitologi tentang makam keramat Godog; men-jaga kawasan makam keramat Godog berikut peninggalan Su-nan Rohmat Suci; melayani pe-ziarah ke makam Keramat Go-dog; dan melakukan kaderisasi juru kunci.

Dalam kehidupan masyara-kat saat ini, religi tidak menjadi suatu sistem keagamaan, tetapi menjadi suatu bagian dari ke-buidayaan. Agama di Indonesia mempunyai hubungan yang erat dengan kebudayaan masyara-kat. Agama bukanhanya mela-hirkan kebudayaan baru, akan tetapi juga menyebabkan terja-dinya transformasi kebudayaan yang berlangsung dalam ma-syarakat. (Sufwandi mangkudila- ga Sumbangan Religi sebagai satu wujud kebudayaan bagi perkembangan pariwisata, hal 277).

Contoh fenomena masyarakat di Indonesia tentang kebuda-yaan agama dapat dikemu-kakan hal-hal sebagai beri-kut: yakni kepercayaan akan terkabulnya suatu permoho-nan, harapan bila berziarah ke makam seseorang yang dianggap suci atau keramat oleh masyarakat sekitar atau pendukungnya. (idem, hal 277)

Budaya spiritual menjadi ba-gian integrar dari kehidupan sebagian masyarajkat Indo-nesia. Hal itu, salah satunya tercermin dari kehidpan ma-syarakat Indoensia yang su-ka melaksanakan ziarah ke makam karamat. Berkaitan dengan tradisi tersebut ber-kembang pula pranata-pra-nata so-sial di seputar tradisi berziarah itu tercermin masih hidup pada Masyarakat Indonesia.

Definisi Juru Kunci menurut Kamus Bahasa Sunda Ka-rangan R Satjadibrata, juru kunci adalah tukang nyangking kunci

Koentjaraningrat dan Antropologi di Indonesia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1997:
Ada pendapat yang menga-takan bahwa semakin ma-syarakat berproses menjadi masyarakat masa kini, maka salah satu implikasi penting-nya adalah bermunculannya berbagai pranata sosial (so-cial institution) baru yang tadinya brlum ada( Djaka Soehendra dan Yulizar Syafri S dalam judul Meneropong Gejala religi dalam perkem-bangan masyarakat dan ke-budayaan (Hal 260)

Pada masyarakat transisi (dan semakin modern) itu, institusi religi semakin menjadi salah satu institusi sosial (budaya saja. Artinya, banyak aspek kehidu-pan lain kemudian tidak lagi dilandasi oleh institusi relligi. Sementara itu, cakupan penga-turan san pelandasan institusi religi pun semakin menyempit dan terkhususkan pada bidang-bidang kehidupan keagamaan saja. (Idem, hal 261).

Pada berbagai gejala sosial
tertunjukkan bahwa justru religi (yang didukung oleh umat dan berbagai akidah dasar-nya) bisa survive dan mala-han berfungsi lebih efektif dibanding dengan berbagai institusi sosial lainnya dalam masa modern. (Idem hal 64)

Sumbangan religi sangat be-sar dalam proses pembangu-nan yang berkelanjutan. Se-perti yang ditunjukkan oleh Atmaja (1993) bahwa keber-lanjutan pemanfaatan sum-ber daya (alam) dapat ber-langsung manakala keyakinan spiritual masyarakatnya ikut campur tangan, guna memba-ngun suatu mekanis-me kontrol yang menjamin pemanfaatan sumber daya tersebut. (hal 267)

Dalam kehidupan masyara-kat saat ini, religi tidak men-jadi suatu sistem keagamaan, tetapi menjadi suatu bagian dari kebudayaan. Agama di Indonesia mempunyai hubungan yang erat dengan kebudayaan masyarakat. Agama bukan hanya melahirkan kebudayaan baru, akan tetapi juga menye-babkan terjadinya transformasi kebudayaan yang berlang-sung dalam masyarakat. (Sufwandi Mangkudilaga, Sumbangan Religi sebagai satu wujud kebudayaan bagi perkembangan pariwisata, hal 277).

Contoh fenomena masyara-kat di Indonesia tentang ke-budayaan agama dapat dike-mukakan hal-hal sebagai berikut: yakni kepercayaan akan ter-kabulnya suatu permohonan, harapan bila berziarah ke makam seseorang yang diang-gap suci atau keramat oleh masyarakat sekitar atau pen-dukungnya.(idem hal 277)

Di Indonesia agama dan ke-budayaan merupakan unsur yang saling mengisi. Agama, kini memberi landasan bagi suatu kebudayaan untuk ber-kembang. Sedangkan sisa-sisa religi (kebudayaan aga-ma) sebagai suatu unsur universal dari kebudayaan, keberadaannya banyak dipe-ngaruhi agama yang ada. (278) idem

Daftar Pustaka
Kamus Umum Basa Sunda, Lembaga Basa dan Sastra Sunda, Tarate Bandung, 1981

Sumber :
Buddhiracana ◙ Vol. 10\No. 1\ Maret 2005 BPSNT Bandung
http://wisatadanbudaya.blogspot.com
Continue reading >>

Label

1990 (8) 1992 (17) 1993 (25) 1995 (21) 1996 (8) 1997 (27) 1998 (19) 1999 (19) 2000 (17) 2001 (19) 2002 (12) 2003 (12) 2004 (5) 2005 (18) 2006 (1) 2007 (36) 2008 (12) 2009 (27) 2010 (28) 2011 (44) 2012 (33) 2013 (7) 2014 (10) aam masduki (12) ade MK (2) adeng (11) Agenda (22) agus heryana (13) Ani Rostiati (7) arsitektur tradisional (2) Artikel (73) bahasa (6) banceuy (1) bandar lampung (2) Banten (9) Bartoven Vivit Nurdin (1) Berita (74) Bimbingan (7) Bogor (1) budaya (185) Buddhiracana (13) Bunga Rampai (1) ciamis (4) Cianjur (3) cimahi (1) cirebon (11) dialog (9) Dibyo Harsono (6) DKI Jakarta (4) download (3) ekonomi (11) Endang Nurhuda (4) endang supriatna (6) enden irma (9) euis thresnawaty (8) Festival Kesenian Tradisional (2) folklore (4) Galery (4) Garut (8) gembyung (1) geografi sejarah (9) gua sunyaragi (1) halwi dahlan (4) hermana (9) herry wiryono (10) heru erwantoro (11) iim imadudin (7) Indramayu (4) Info (9) irvan setiawan (5) iwan nurdaya (1) Iwan Roswandi (6) jawa barat (28) Jurnal Penelitian (186) Kabupaten Bandung (4) kampung (1) kampung kuta (1) kampung mahmud (2) kampung naga (1) Karawang (2) kekerabatan dan organisasi sosial (10) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (17) komunitas adat (6) Kuningan (1) Lampung (4) Lampung Utara (1) lasmiyati (12) lawatan budaya (4) lawatan sejarah (3) lebak (7) lina herlinawati (11) lomba penulisan (1) Majalengka (5) mapag sri (1) mitos (1) moh ali fadhillah (1) mumuh (1) museum (1) nandang rusnandar (14) naskah kuno (6) nina merlina (7) pakaian (3) Patanjala (77) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (7) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (11) permainan (3) Perpustakaan (221) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (2) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (9) rosyadi (8) sejarah (67) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (1) subang (6) Sukabumi (5) sumedang (4) Suwardi Alamsyah P (14) Tasikmalaya (6) teknologi (4) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (7) tokoh sejarah (1) toto sucipto (12) tradisi lisan (6) upacara tradisional (8) WBTB (1) Yanti Nisfiyanti (8) yudi putu satriadi (12) Yuzar Purnama (13)
 

BPNB Bandung - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP