'ENTER TEXT HERE'
WILAYAH KERJA: PROVINSI JAWA BARAT, DKI JAKARTA, BANTEN, DAN LAMPUNG

kerjasama antara Museum Nasional Jakarta - BPNB Bandung melalui kegiatan Lawatan Sejarah

Museum Nasional sebagai tempat penyimpanan dan sumber informasi dari berbagai karya sejarah tentang perjalanan Bangsa Indonesia menjadi tempat pertama yang dikunjungi peserta lawatan sejarah BPNB Bandung tahun 2015.

Aroma kesejarahan sudah sangat terasa Sesaat setelah memasuki Museum Nasional. Peserta lawatan sejarah yang terdiri dari guru dan siswa SMA / sederajat yang berada dalam wilayah kerja BPNB Bandung yang sebenarnya sudah sangat ingin menjelajahi seluruh koleksi rupanya harus ditahan terlebih dahulu karena harus melewati sesi sambutan dan peresmian yang dilakukan langsung oleh Kepala Museum Nasional.
Toto Sucipto selaku Kepala BPNB Bandung mengucapkan beberapa patah kata sebagai pembuka yang berisi tentang maksud dan tujuan kunjungan ke Museum Nasional. Dilanjutkan kemudian dengan sambutan yang dilakukan oleh Intan Mardiana N. selaku Kepala Museum Nasional . Deksripsi singkat mengenai keberadaan Musem Nasional menjadi tema dari  sambutan yang dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama yang disambung dengan pembukaan secara resmi kegiatan Lawatan Sejarah dengan diiringi pertukaran cenderamata antara Kepala Museum Nasional dengan Kepala BPNB Bandung.




Setelah sesi seremoni selesai, peserta dengan dipandu oleh petugas dari Museum Nasional melakukan kunjungan ke berbagai koleksi museum.



Koleksi yang dikunjungi antara lain koleksi arca, suku bangsa, koleksi emas, dan batu mulia. Sayangnya waktu yang diberikan kurang dapat mengakomodir keinginan peserta untuk mengetahui secara lebih lanjut tentang koleksi museum.








Continue reading >>

Lawatan Sejarah 2015

1. Latar Belakang

Sejarah merupakan bagian dari alur pemikiran yang bergerak dari masa lalu untuk dijadikan bahan pertimbangan langkah-langkah di masa yang akan datang. Sebuah perjalanan sejarah tidak hanya dimiliki oleh individu tetapi juga diterapkan pula oleh sekelompok bahkan pada skala yang lebih besar lagi yaitu sebagai sebuah bangsa, termasuk Bangsa Indonesia. Perjalanan yang penuh liku penjajahan menyisakan beberapa kisah dan saksi bisu berupa bangunan-bangunan bersejarah yang beberapa di antaranya hingga kini masih dirawat dengan baik
DKI Jakarta sebagai sebuah ibukota negara Republik Indonesia berperan sangat penting dalam mengelola pemerintahan mulai dari masa penjajahan hingga masa kemerdekaan. Dengan demikian, bangunan-bangunan sebagai bagian dari infrastruktur pemerintahan berikut faktor pendukungnya bertebaran di seantero DKI Jakarta yang pada beberapa beberapa bangunan bersejarah tertentu masih dirawat dan dipergunakan untuk mengelola pemerintahan termasuk di antaranya adalah Istana Merdeka. Selain bangunan bersejarah, berbagai koleksi bersejarah juga dengan mudah dapat kita temukan di berbagai museum yang ada di DKI Jakarta. Salah satu di antaranya adalah Museum Gajah atau Museum Nasional.
Sama halnya dengan DKI Jakarta, Provinsi Banten  yang sebelumnya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Barat memiliki peran penting sebagai daerah penyangga Jakarta baik pada masa penjajahan maupun masa kemerdekaan. Di wilayah ini banyak terdapat peninggalan sejarah sejak masa Kesultanan Banten hingga masa kolonial yang hingga kini masih terawat dengan baik di antaranya adalah Keraton Surosowan, Keraton Kaibon, dan Masjid Agung.
Jakarta dan Banten yang merupakan wilayah yang sarat dengan nuansa kesejarahan adalah sebagian kecil dari sekian banyak peristiwa sejarah yang bertebaran di bumi pertiwi yang harus dimaknai sebagai sebuah bukti bahwa Indonesia didirikan tidak hanya dalam satu malam. Sebuah pengertian yang bersifat instan yang memang pada saat ini banyak digandrungi oleh generasi muda. Sudah seharusnya generasi muda mengerti akan arti dari sebuah proses yang harus dijalankan untuk mewujudkan sebuah harapan. Harapan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan adalah sebuah kemerdekaan. Dan, perlu diingat bahwa kata merdeka adalah sebuah langkah awal untuk menuju pada harapan besar Bangsa Indonesia yang diungkapkan dalam Pancasila. Apabila dicermati bahwa tugas untuk mengisi kemerdekaan agar sesuai dengan Pancasila diserahkan sepenuhnya pada generasi muda. Dengan demikian, bukti-bukti sejarah yang tersebar di dua wilayah tersebut di atas tidak menjadi sebuah pajangan yang tidak bermakna.
Guna memaknai arti penting sejarah utamanya di dua wilayah tersebut, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Bandung secara rutin menyelenggarakan kegiatan Lawatan Sejarah. Sebuah kegiatan yang mengajak siswa dan guru untuk mengenang, mempelajari, dan memahami nilai sejarah. Kegiatan ini memang sengaja dibuat seperti paket wisata agar para peserta secara tidak sadar mengarahkan alur pemikirannya ke belakang untuk dibandingkan dengan masa kekinian sehingga bisa memperoleh gambaran Indonesia pada masa yang akan datang.

2. Tujuan

a.    Mengenal informasi sejarah yang baru di luar text book.
Pengalaman di lapangan dapat dipakai sebagai pengayaan variasi informasi sejarah.
b.    Konteks
Kunjungan lapangan (field trips) berangkat dari teks (wacana) ke realitas di lapangan. Siswa mempelajari informasi tertulis di dalam kelas dan memahaminya dalam konteks kenyataan di lapangan.
c.     Isu Tambahan
Kunjungan lapangan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan topik atau isu-isu lain yang bisa dijadikan bahan tulisan.
d.    Historical Mindedness
Dengan belajar dari lapangan, siswa akan memperoleh apresiasi sejarah yang lebih intens. Siswa selain mengetahui juga dapat mengerti dan memahami tentang objek sejarah yang dipelajarinya.
e.    Refreshing
Kunjungan lapangan juga berguna sebagai rekreasi.

3. Ruang Lingkup

Pelaksanaan Lawatan Sejarah pada tahun anggaran 2015 meliputi tempat-tempat bersejarah di DKI Jakarta dan Banten. Ditempat ini peserta akan mengunjungi, mengamati, dan menganalisa situs-situs bersejarah tersebut. Selain mengunjungi situs bersejarah, peserta juga diberi perbekalan pengetahuan tentang Narkoba mencakup pengenalan, penyalahgunaan, dan pencegahannya.


A. Museum Nasional


Museum Nasional merupakan nama resmi dari salah satu instansi yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Masyarakat umum, terutama di wilayah DKI Jakarta, lebih mengenal Museum Nasional dengan istilah Museum Gajah atau Gedung Gajah. Penamaan ini lebih ditujukan pada ciri khas Museum Nasional yaitu berupa patung gajah pemberian raja Thailand yang ditaruh tepat di depan pintu utama. Selain itu, masyarakat umum juga mengenal Museum Nasional dengan nama Gedung Arca. Hal ini disebabkan sangat banyaknya arca-arca yang menjadi salah satu koleksi Museum Nasional.
Sebagai sebuah instansi yang berada di bawah naungan Kemdikbud, visi misi Museum Nasional harus selaras dengan visi misi Kemdikbud. Adapun visi Misi Museum Nasional adalah “Terwujudnya Museum Nasional sebagai pusat informasi budaya dan pariwisata yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan peradaban dan kebanggaan terhadap kebudayaan national, serta memperkokoh persatuan dan persahabatan antar bangsa”.
Cikal bakal berdirinya Museum Nasional dimulai pada tanggal 24 April 1778. Pada tanggal tersebut, De Hollandsche Maatschappij der Wetenschappen (perkumpulan ilmiah Belanda) membuat sebuah himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, yaitu sebuah lembaga independen yang bertujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang-bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah. Salah satu rencana dari lembaga ini adalah membuat sebuah museum. JCM Radermacher, salah seorang pendiri lembaga ini, kemudian menyumbangkan rumah beserta koleksinya yang berada di Jalan Majapahit No. 3 Jakarta untuk dijadikan Museum. Lama kelamaan koleksi museum semakin bertambah sehingga tidak tertampung lagi. Pemerintah Belanda kemudian pada tahun 1862 mendirikan bangunan museum baru di jalan Medan Merdeka Barat No. 12. Bangunan inilah yang hingga kini masih dipertahankan dan dikenal dengan nama Museum Nasional.
Koleksi Museum Nasional terdiri dari berbagai macam jenis, di antaranya koleksi sejarah, keramik, geografi, prasejarah, etnografi, numismatik, dan heraldik. Dengan begitu banyaknya jenis dan jumlah koleksi, pengelola Museum Nasional dituntut kreatif untuk dapat lebih banyak lagi menarik pengunjung. Oleh karena itu, Museum Nasional tidak saja hanya mengandalkan koleksi benda bersejarah, tetapi juga kerap mengadakan eksibisi dan event-event. Pada tahun 2014, salah satu kegiatan Museum Nasional adalah mengadakan Festival 236 Tahun MNI yang digelar selama sepekan, dimulai pada tanggal 17 sampa dengan 24 Mei 2014. Baru-baru ini, pada tanggal 14 Februari 2015, Museum Nasional mengadakan Jakarta Student Art Festival yang diisi dengan kegiatan mewarnai, menggambar, dan vokal group.

B. Keraton Surosowan

Keraton Surosowan dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin selama kurun waktu 4 tahun, yaitu dari tahun 1522 – 1526. Arsitek pembangunan situs bersejarah ini, salah satunya berkebangsaan Belanda yang telah masuk Islam, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel yang berganti nama menjadi Pangeran Wiraguna. Dibangun di atas lahan seluas 3 hektar, sekeliling keraton diberi pembatas tembok setinggi 3 meter sehingga mirip sekali dengan benteng.
Untuk masuk ke Keraton Surosowan,  dibangun 3 buah gerbang yang berada di sebelah utara, timur, dan selatan. Bahan untuk membuat Gerbang terdiri dari batu karang dan batu bata yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Yusuf sebagai Sultan kedua Banten pada tahun 1570 sampai 1580.
Memasuki pintu gerbang, pengunjung akan menjumpai bangunan-bangunan yang berhubungan dengan air. Salah satu yang terkenal adalah sebuah kolam yang diberi nama Kolam Rara Denok. Kolam sepanjang 30 meter, lebar 13 meter, dengan kedalaman 4,5 meter memiliki sumber mata air yang berasal dari Danau Tasikardi yang terletak sekitar 2 kilometer dari Surosowan.
Di dalam Komplek Keraton Surosowan juga terdapat pula Gedong Pakuwon yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran dinding sekitar 2 meter dan lebar 5 meter, panjang sisi timur dan sisi baratnya kira-kira sekitar 300 meter. Kemudian dinding sisi utara dan sisi selatan 100 meter maka luas secara keseluruhan sekitar 3 hektar. Pintu masuk merupakan pintu gerbang utama terletak di sebelah utara menghadap ke alun-alun.
Tahun 1605 dan 1607 benteng keraton sempat mengalami kebakaran hebat dan pada 21 Nopember 1808 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels bersama pasukan militernya menghancurkan keraton ini.

C. Keraton Kaibon


Dinamakan Keraton “Kaibon” yang berarti keibuan, karena Komplek Keraton Kaibon terletak di Kampung Kroya ini dibuat untuk ibunda Sultan Syafifuddin yang bernama ibu Ratu Aisyah. Pada tahun 1832 keraton ini dibongkar pada masa pemerintahan Jenderal Daendels. Penyebabnya adalah bahwa Sultan Syafifuddin menolak perintah Daendels untuk meneruskan pembangunan jalan Anyer– Panarukan. Bentuk penolakan tersebut disertai dengan pemenggalan Du Puy, utusan Belanda.
Meskipun dihancurkan, kondisi Keraton Kaibon yang saat ini masih dapat dilihat tidaklah separah Keraton Surosowan yang tidak menyisakan struktur bangunan pokok. Setidaknya, Keraton Kaibon masih menyisakan struktur bangunan yang masih berdiri tegak. Pintu Paduraksa juga masih kokoh berdiri. Ada kesamaan antara Keraton Kaibon dengan Keraton Surosowan adalah unsur air yang mengelilingi seluruh bangunan. Penggunaan unsur air bertujuan sebagai pendingin ruangan dan bangunan mengingat kondisi cuaca di wilayah tersebut tergolong sangat panas. Dengan demikian, seluruh ruangan dan bangunan tidak lepas dari saluran air yang dialirkan melalui bagian bawah. Sementara untuk membuat lantai dan atap bangunan digunakan balok kayu berukuran besar. Bahan-bahan yang sama juga digunakan untuk membangun mesjid yang kala itu berdiri megah dan terkesan mewah dan dimasukan sebagai bangunan inti keraton.

D. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

 Bangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama berdiri di atas tanah seluas 778 m2 dari keseluruhan luas yang dimiliki museum yaitu 10.000 m2. Peresmian museum dilakukan pada tanggal 15 Juli 1985 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan yang kala itu dijabat  Prof.DR. Haryati Soepadio.
Koleksi Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama terbagi atas koleksi asli dan replika. Terdapat juga koleksi dalam bentuk diorama, dan maket, arkeologika, keramologika, numismatika/heraldika, etnografika, dan seni rupa. Koleksi arkeologika antara lain terdiri dari kapak batu, arca nandi, genteng berbagai bentuk dan ukuran, memolo/hiasan atap bangunan/pemuncak, tegel, dan pagar besi berhias. Terdapat juga koleksi keramologika karena Banten pada masa lalu memiliki industri gerabah yang cukup banyak. Hasil produksi terdiri dari peralatan rumah tangga, unsur bangunan, dan kowi (wadah pelebur logam).
Koleksi numismatika menjadi salah satu andalan museum ini karena Banten pada masa lalu sudah mampu membuat uang sendiri. Selain koleksi mata uang Banten, terdapat juga berbagai jenis koleksi mata uang asing seperti caxa (Cina), mata uang VOC,  mata uang Inggris, dan Tael.
Koleksi etnografika cukup mengundang perhatian pengunjung karena Banten pada masa lalu juga sudah mampu membuat kain dan pakaian sendiri. Terbukti dengan beberapa koleksi peralatan tenun dan pakaian. Koleksi etnografika juga diisi dengan berbagai jenis senjata dan laat-alat kesenian.
Koleksi seni rupa lebih diarahkan pada diorama dua dimensi yang menggambarkan kondisi Banten terutama pada masa kerajaan, seperti lukisan pelabuhan Banten, Pasar Karangantu, dan lukisan para sultan yang pernah menjabat.

E. Masjid Agung Banten Lama

Masjid Agung Banten Lama merupakan salah satu situs peninggalan bersejarah yang menempati lahan seluas 1,3 hektar yang dikelilingi tembok setinggi kurang lebih 1 meter yang dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putra pertama dari Sunan Gunung Jati.
Pada keempat arah mata angin terdapat masing-masing sebuah gapura. Menara masjid menggunakan bahan batu bata yang menjulang setinggi 24 meter dengan diameter 10 meter menjadi ciri khas situs bersejarah ini. Ciri khas lainnya adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China hasil desain seorang arsitek Cina bernama Tjek Ban Tjut.
Selain menara, terdapat sebuah konstruksi tembok persegi delapan yang dikenal dengan nama istiwa, bencet atau mizwalah yang digunakan sebagai pengukur waktu dengan memanfaatkan bayangan akibat sinar matahari. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.
Bangunan masjid ini ditopang oleh dua puluh empat tiang (soko guru), empat tiang utama terletak pada bagian tengah ruangan. Pada bagian bawahnya terdapat empat buah umpak batu berbentuk buah labu. Mihrab terdapat pada dinding sebelah barat berupa ceruk tempat imam memimpin shalat.
Dinding timur memisahkan ruang utama dengan serambi timur yang mempunyai bentuk atap limas. Pada dinding ini terdapat empat buah pintu masuk yang rendah. Setiap orang yang masuk ke ruangan utama harus menundukkan kepala. Meski ia berasal status sosial tertentu, ketika memasuki masjid semuanya sama.
Pengunjung masjid tidak hanya berasal dari jamaah yang hendak melakukan shalat lima waktu, tetapi cukup banyak di antaranya yang berstatus peziarah. Hal ini dapat dipahami mengingat di masjid ini juga terdapat kompleks pemakaman sultan-sultan Banten serta keluarganya. Di antaranya makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.


F. Benteng Speelwijk

Benteng Speelwijk merupakan salah satu simbol kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda di wilayah Banten. Terletak sekitar 500 meter dari Masjid Agung Banten, di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen - Kota Serang. Situs bersejarah ini terkesan masih berdiri kokoh. Hasil rancangan seorang arsitek bernama Hendrick Loocaszoon Cardeel, benteng yang dibangun belanda pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672-1684) ini membutuhhkan waktu 4 tahun, yakni 1681-1684.
Nama Speelwijk diambil untuk menghormati Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-14, yakni Cornelis Janszoon Speelman yang memerintah antara tahun 1681-1684. Tidak seperti biasanya para penjajah yang membuat bangunan tanpa memohon izin penguasa setempat, Benteng Speelwijk dibangun dengan memohon izin terlebih dahulu kepada Sultan Qohhar dengan alasan sebagai tempat berlindung dari serangan rakyat Banten terutama para pengikut Sultan Ageng Tirtayasa. Pembangunan Benteng Speelwijk juga tidak menggunakan tenaga dari rakyat Banten, melainkan dari orang-orang Cina denga upah yang sangat rendah. Bahan utama pembuatan benteng terdiri dari Pasir, batu, dan kapur yang dicampur dengan menggunakan media air. Mereka membangun benteng dengan tembok pertahanan setinggi 3 meter mengelilingi bangunan di dalamnya yang terdiri dari rumah komandan, gereja, kamar senjata, kantor administrasi, toko kompeni dan kamar dagang. Dibuatkan juga parit yang mengelilingi tembok sebagai upaya mempersulit musuh untuk masuk dan menyerang benteng.
Saat ini Benteng Speelwijk sudah dalam kondisi rusak namun masih nampak kekokohannya. Bagian bangunan yang terbuat dari batu juga terkesan masih utuh berdiri. Tidak jauh dari lokasi Benteng, terdapat sebuah bangunan vihara yang diberi nama Vihara Avalokitesvara.

G. Vihara Avalokitesvara

Vihara Avalokitesvara telah berdiri sejak abad ke-16, tepatnya tahun 1542. Vihara Avalokitesvara didirikan oleh istri Sunan Gunung Jati, yang memang merupakan keturunan Tionghoa bernama Ong Tien Nio. Versi lain menyebutkan, vihara ini dibangun pada tahun 1652. Yaitu pada masa emas kerajaan Banten saat dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa.
Awalnya lokasi vihara ada di Desa Dermayon, namun dipindahkan pada tahun 1774 ke lokasi yang sekarang ini, yaitu di kawasan Pamarican Kecamatan Kasemen. Tahun 1932, vihara ini pernah dilakukan pemugaran. Pada tanggal 26-27 Agustus 1883, saat Gunung Krakatau meletus dan diiringi dengan tsunami, konon orang-orang yang berlindung di dalam vihara ini berhasil selamat.
Saat ini, Vihara Avalokitesvara merupakan kelenteng Tri Dharma, yang melayani para pengikut tiga aliran kepercayaan, yaitu Kong Hu Cu, Taoisme dan Buddha. Di area kelenteng terdapat 16 patung dewa dan tiang batu yang berukir naga. Pernah terjadi kebakaran yang menghanguskan sebagian besar bangunan. Di antara benda-benda yang berhasil diselamatkan adalah Patung Dewi Kwan Im yang telah berusia ratusan tahun. Patung Dewi Kwan Im inilah yang menghiasi altar utama vihara yang memiliki luas sekitar 10 hektar ini

H. Tasikardi

Tasikardi adalah nama sebuah danau buatan yang terletak di Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kota Serang, Provinsi Banten. Pembangunan Danau Tasikardi dilakukan pada masa pemerintahan Panembahan Maulana Yusuf yang bertahta antara tahun 1570 hingga 1580 M. Terdapat beberapa fungsi dari pembuatan danau buatan ini, di antaranya sebagai tempat peristirahatan sultan dan keluarganya. Selain itu, limpahan air danau yang berasal dari Sungai Cibanten ini dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan di sekitarnya dengan menggunakan sistem irigasi. Jalur irigasi juga melintasi bagian bawah Keraton Surosowan yang disalurkan melalui pipa tanah liat untuk difungsikan sebagai sistem pendingin ruangan.
Danau Tasikardi memang terlihat jelas merupakan sebuah danau buatan. Hal ini terlihat jelas dari pinggiran danau seluas 5 hektar ini yang dilapisi ubin batu bata. Di tengah danau dapat dijumpai sebuah “pulau” berisi bangunan yang berfungsi sebagai tempat bertafakur ibunda sultan. Fungsi bangunan tersebut kemudian berkembang menjadi tempat peristirahatan keluarga kesultanan. Bangunan yang didirikan di antaranya kolam penampungan air, pendopo, dan kamar mandi keluarga kesultanan. Saat ini yang tersisa saat ini hanya pondasinya saja, yaitu bangunan turap yang mengelilingi pulau berukuran 40 meter x 40 meter dengan ketinggian 2-3 meter.
Continue reading >>

Sultan Madi

JudulSultan Madi
PengarangMusni Umberan, I made Satyananda, Yufiza, dan Hendraswati
Penyunting Soimun
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Drektorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1997
Tebalix + 280 halaman
Desain SampulLestari
Continue reading >>

Kajian Nilai Budaya Naskah Kuna Ali Hanafiah

JudulKajian Nilai Budaya Naskah Kuna Ali Hanafiah
PengarangSindu Galba dan Wahyuningsih
Penyunting Lindy Astuti S
PenerbitProyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
CetakanPertama, 1998
Tebal317 halaman
Desain SampulLestari
Continue reading >>

Label

1990 (11) 1991 (1) 1992 (19) 1993 (32) 1995 (24) 1996 (11) 1997 (30) 1998 (21) 1999 (24) 2000 (20) 2001 (20) 2002 (12) 2003 (12) 2004 (6) 2005 (19) 2006 (1) 2007 (36) 2008 (13) 2009 (31) 2010 (28) 2011 (44) 2012 (33) 2013 (7) 2014 (10) 2015 (1) aam masduki (12) ade MK (2) adeng (11) Agenda (22) agus heryana (13) Ani Rostiati (7) arsitektur tradisional (2) Artikel (73) bahasa (6) banceuy (1) bandar lampung (2) Banten (9) Bartoven Vivit Nurdin (1) Berita (78) Bimbingan (7) Bogor (1) budaya (187) Buddhiracana (13) Bunga Rampai (1) ciamis (4) Cianjur (3) cimahi (1) cirebon (11) dialog (9) Dibyo Harsono (6) DKI Jakarta (4) download (3) ekonomi (11) Endang Nurhuda (4) endang supriatna (7) enden irma (9) euis thresnawaty (8) Festival Kesenian Tradisional (2) folklore (4) Galery (5) Garut (8) gembyung (1) geografi sejarah (9) gua sunyaragi (1) halwi dahlan (6) hermana (9) herry wiryono (10) heru erwantoro (11) iim imadudin (7) Indramayu (4) Info (9) irvan setiawan (5) iwan nurdaya (1) Iwan Roswandi (6) jawa barat (28) Jurnal Penelitian (186) Kabupaten Bandung (4) kampung (1) kampung kuta (1) kampung mahmud (2) kampung naga (1) Karawang (2) kekerabatan dan organisasi sosial (10) keraton kacerbonan (1) keraton kanoman (1) keraton kasepuhan (1) kesenian (17) komunitas adat (6) Kuningan (1) Lampung (4) Lampung Utara (1) lasmiyati (12) lawatan budaya (4) lawatan sejarah (3) lebak (7) lina herlinawati (11) lomba penulisan (1) Majalengka (5) mapag sri (1) mitos (1) moh ali fadhillah (1) mumuh (1) museum (1) nandang rusnandar (14) naskah kuno (6) nina merlina (7) pakaian (3) Patanjala (80) Penayangan Film dan Diskusi Kebudayaan (8) pengetahuan (4) pengobatan (4) pengrajin (3) perikanan (2) perilaku manusia (1) peristiwa sejarah (11) permainan (3) Perpustakaan (289) peta budaya jawa barat (1) Purwakarta (2) religi (11) Resensi Buku (1) ria andayani (13) ria intani (9) rosyadi (8) sejarah (68) sektor informal (5) Seminar Hasil Penelitian (2) Seminar Sejarah (1) Seminat Hasil Penelitian (1) seni pertunjukan (5) Serang (1) subang (6) Sukabumi (5) sumedang (5) Suwardi Alamsyah P (14) Tasikmalaya (7) teknologi (4) Tinjauan Buku (2) Tjetjep Romana (8) tokoh sejarah (1) toto sucipto (12) tradisi lisan (6) upacara tradisional (8) WBTB (1) Yanti Nisfiyanti (8) yudi putu satriadi (12) Yuzar Purnama (13)
 

BPNB Bandung - Copyright  © 2012 All Rights Reserved | Design by OS Templates Converted and modified into Blogger Template by BTDesigner | Back to TOP